Telat KIR, Armada Sragen Dikandangkan di Jabodetabek

SRAGEN, KRJOGJA.com – Sejumlah armada angkutan dari Kabupaten Sragen dilaporkan terpaksa dikandangkan oleh petugas di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Armada tersebut dikandangkan karena diketahui terlambat atau belum dilakukan uji kelaikan (KIR).

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen, Muhari melalui Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB), Junaedhi, Minggu (10/9/2017) mengungkapkan, pihaknya menerima laporan terkait pengandangan sejumlah armada telat KIR dari Sragen tersebut. Kabar pengandangan armada Sragen di Jabodetabek itu diperkuat dengan adanya permintaan surat pengantar dari pengemudi yang membawa armada tersebut.

Menurut Junaedhi, pengemudi armada tersebut datang ke Dishub meminta surat pengantar karena armadanya tertangkap dan dikandangkan karena belum diujikan. Rata-rata armada yang dikandangkan adalah angkutan barang yang bertujuan ke wilayah Jabodetabek. "Kemarin banyak yang minta pengantar karena dikandangkan di sana (Jabodetabek). Sekarang memang ketat dan hampir setiap hari ada pengawasan rutin oleh petugas. Terlambat satu hari saja langsung dikandangkan," ujarnya.

Bahkan yang melintas di kawasan Puncak Bogor, jelas Junaedhi, hampir setiap akhir pekan selalu dilakukan cek oleh petugas. Ia berharap insiden pengandangan armada Sragen itu bisa menjadi pembelajaran bagi pemilik atau pengemudi armada tujuan luar kota agar tertib mengujikan.

Lebih lanjut Junaedhi menjelaskan, sebenarnya pengujian kendaraan saat ini bisa dilakukan secara online di seluruh wilayah Indonesia. Hanya saja, memang harus ada surat pengantar dari daerah asal karena sistem belum semuanya terintegrasi antar daerah.

Berbeda dengan angkutan barang, armada angkutan penumpang dari Sragen tujuan luar, mayoritas sudah lebih tertib pengujian. Selain menghindari sanksi penangkapan, sebenarnya pengujian kelaikan (KIR) lebih karena untuk kepentingan faktor keselamatan.

Begitu pula untuk armada angkutan lokal sendiri, sejauh ini juga relatif sudah tertib. Namun untuk jenis angkutan kota (angkot) dan angkutan pedesaan (angkudes) sebagian memang masih perlu banyak pendekatan dan sosialisasi karena ada yang belum diujikan. "Seperti angkuta kemarin ada puluhan yang belum diujikan. Kami langsung oyak-oyak dan akhirnya dalam beberapa hari langsung diujikan. Kami juga mengingatkan lewat SMS gateway dan dikirim ke pemilik armada," tambahnya.(Sam)

 

BERITA REKOMENDASI