Terobosan Baru, DLH Sukoharjo Sosialisasikan Pengelolaan Sampah Dengan Budidaya Maggot

Editor: Agus Sigit

SUKOHARJO, KRjogja.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo melakukan sosialisasi pengelolaan sampah dengan budidaya black soldier fly (BSF) atau maggot. Kegiatan dilakukan dengan sasaran lima kecamatan dengan tingkat sampah buangan masyarakat paling banyak. Maggot dipilih sebagai salah satu terobosan untuk dilakukan ditingkat desa membantu pemerintah dalam mengatasi masalah sampah.

Sosialisasi digelar di aula Gedung Menara Wijaya Lantai 10 Pemkab Sukoharjo, Senin (27/9). Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan Wakil Bupati Sukoharjo Agus Santosa. Peserta kegiatan para kepala desa di lima kecamatan dan perwakilan kepala desa dan lurah dari kecamatan lain. Lima kecamatan tersebut, Kecamatan Sukoharjo, Baki, Mojolaban, Grogol dan Kartasura.

Kepala DLH Sukoharjo Agustinus Setiyono mengatakan, sosialisasi pengelolaan sampah dengan budidaya black solider fly (BSF) atau maggot dimaksudkan untuk mendukung upaya pengurangan sampah pada sumbernya dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup khususnya dalam bidang pengelolaan sampah.

Tujuan sosialisasi untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah, mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dan mendorong gerakan memilah sampah mulai dari sumber sampah.

“Peserta sosialisasi diprioritaskan pada lima kecamatan penghasil sampah terbanyak di Kabupaten Sukoharjo. Pembatasan peserta juga kami lakukan karena masih pandemi virus Corona,” ujarnya.

Agustinus menjelaskan, selama ini sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Sukoharjo hanya mengandalkan kumpul angkut buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mojorejo, Bendosari. Hal ini berdampak di TPA Mojorejo, Bendosari terjadi tumpukan sampah yang sangat banyak. Setidaknya ada sekitar 140 ton sampah masuk ke TPA Mojorejo, Bendosari setiap hari. Suatu jumlah yang tidak sedikit. Sedangkan luas TPA Mojorejo, Bendosari sangat terbatas hanya 4,5 hektar. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus maka dalam waktu sekitar tiga tahun diprediksi TPA Mojorejo, Bendosari akan penuh.

Berbagai upaya dilakukan dengan mengubah pola pengelolaan sampah yang dimulai dari sumber sampah dengan sistem 3R (reduse, reuse dan recycle) yang bertujuan untuk mengurangi timbul sampah.

Agustinus menambahkan, bahwa ada hasil temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai kinerja pengelolan sampah di Kabupaten Sukoharjo yaitu masalah pemilahan sampah baik pemilahan di TPS maupun di TPS3R. Menurut BPK pemilahan sampah di Kabupaten Sukoharjo masih kurang optimal, terbukti banyak plastik masih berada di TPA. Untuk itu perlu ditindaklanjuti dengan melakukan pemilahan sampah menurut jenisnya yakni sampah organik dan anorganik.

“Sosialisasi pengelolaan sampah dengan budidaya black soldier fly (BSF) atau maggot diharapkan membuat pihak kelurahan dan desa mampu mengelola sampah secara mandiri, sehingga sampah selesai ditingkat desa dan kelurahan. Dengan demikian akan memperpanjang usia TPA,” ujarnya.

Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengatakan, sampah merupakan bagian tidak terpisahkan dari lingkungan. Saat ini sampah memerlukan penanganan dan pengelolaan yang serius. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup manusia maka semakin besar pula permasalahan sampah.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut bahwa timbulan sampah Indonesia pada tahun 2020 sebesar 67,8 juta ton. Timbulan sampah per hari adalah 185.753 ton yang dihasilkan oleh 270 juta orang per hari. Sedangkan sumber timbulan sampah terbesar berasal dari rumah tangga yaitu 48 persen.

Di Kabupaten Sukoharjo sampah yang masuk ke TPA lebih dari 140 ton per hari. Jumlah yang tidak sedikit mengingat luas TPA Mojorejo 4,8 hektar. Apabila ini dibiarkan secara terus menerus maka TPA Mojorejo akan segera punah dan butuh lahan baru untuk TPA dan itu tidak mudah. Untuk itu perlu adanya upaya mengurangi sampah yang masuk ke TPA.

Pengelolaan sampah dengan sistem 3R (reduce, reuse, recycle) adalah pengelolaan sampah yang ditekankan pada pengurangan sampah pada sumbernya. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan memilah sampah sejak dari sumber sampah.

“Salah satu cara efektif dalam mengelola sampah adalah dengan cara budidaya black soldier fly (BSF) atau maggot,” ujarnya.

Dalam prosesnya maggot akan memakan sampah organik yang akan sangat membantu mengurangi sampah secara signifikan mengingat komposisi sampah lebih dari 50 persen adalah sampah organik. Selain mengurangi sampah maggot, juga memiliki segudang manfaat yang dapat mendatangkan keuntungan bagi pengelolanya.

“Saya mengimbau kepada lurah dan kepala desa agar setiap desa dan kelurahan dapat mengelola sampah secara mandiri. Untuk itu setiap desa dan kelurahan agar mengalokasikan sebagian anggaran untuk pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah,” lanjutnya. (Mam)

Bupati Sukoharjo Etik Suryani saat membuka sosialisasi pengelolaan sampah dengan budidaya black soldier fly (BSF) atau maggot. (Wahyu imam ibadi)

BERITA REKOMENDASI