Tersangka Sebut Bos Sabu di LP Nusakambangan

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Kendali peredaran sabu-sabu di balik LP Nusakambangan kembali diselidiki aparat. Dua tersangka pengedar barang haram itu di Karanganyar, Mulat dan Riyadi, memesannya dari seorang yang mengaku penghuni LP tersebut.

“Orang Nusakambangan (LP) yang memberi tahu kemana harus mengambil. Biasanya suruh ambil di dekat tiang listrik sudah dalam kemasan rokok yang berbalut lakban warna hitam,” ujar tersangka Mulat Prasetyo (30) kepada wartawan dalam gelar barang bukti kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang di Mapolres, Jumat (8/9/2017).

Warga Gedong Rt 03/Rw XI Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo ini diringkus aparat Satresnarkoba di sebuah kamar indekos tersangka Riyadi (33) di Desa Kaliapit Rt 06/Rw I Desa Tuban Gondangrejo pada Rabu (23/8). Aparat kepolisian membuntuti dua tersangka tersebut usai bertransaksi sabu-sabu di Solo. Dari tangan tersangka Mulat, polisi menyita 2,87 gram ‘serbuk putih’ yang dikemas dalam enam paket lintingan kertas, uang tunai Rp 1,4 juta dan sebuah ponsel merk Samsung. Sedangkan dari tersangka Riyadi, polisi menyita 5,24 gram sabu yang di dua paket masing-masing 4,81 gram dan 0,43 gram., satu unit timbangan digital, sebandel plastik klip kosong dan kartu ATM BCA, satu sepeda motor Honda Supra X 125 AD 2108 MA dan sebuah ponsel Nokia.

Tersangka Mulat mengatakan membeli sabu Rp 1 juta per gram. Ia memasang harga eceran Rp 300 ribu tiap 0,35 gram.

“Untungnya bisa dua kali lipat,” ujar Mulat.

Wakapolres Karanganyar Kompol Prawoko mengatakan ihwal indikasi kendali peredaran sabu-sabu dari balik LP Nusakambangan telah disampaikan ke Ditnarkoba Polda Jawa Tengah. Pengakuan itu bukan kali pertama dituturkan tersangka kasus narkoba, namun juga tersangka dari kasus sebelumnya.

“Kita koordinasikan ke Ditnarkoba Polda Jawa Tengah,” katanya.

Atas perbuatannya, Mulat dan Riyadi dijerat Pasal 114 ayat (1) subsider pasal 112 ayat (1) UURI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar. (Lim)    

 

BERITA REKOMENDASI