Tidak Terpengaruh PMK, Stok Sapi Idul Adha di Sukoharjo Aman

Editor: Agus Sigit

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo sekarang terus memberikan sosialisasi dan edukasi kepada pedagang dan peternak. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui gejala dan cara pencegahan PMK.

“Sapi dari Sukoharjo sementara untuk kebutuhan lokal karena memang lalu lintas perdagangan hewan ternak sangat ketat sekarang setelah ada wabah PMK,” lanjutnya.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo siapa membantu daerah lain apabila kekurangan stok sapi. Pengiriman akan dilakukan dengan melibatkan peternak dan pedagang sapi lokal Sukoharjo.

“Termasuk nanti saat Idul Adha apabila ada daerah yang kekurangan stok hewan ternak maka akan kami kirim dengan dipastikan dulu kondisi kesehatannya,” lanjutnya.

Bagas mengatakan, sapi dari peternak Sukoharjo sangat melimpah dan dikirim untuk memenuhi kebutuhan beberapa daerah. Melimpahnya stok membuat Kabupaten Sukoharjo mampu swasembada daging sapi.

Bagas Windaryatno mengatakan, perdagangan hewan ternak sapi masih normal. Artinya antara permintaan dan penjualan masih stabil dari peternak sapi maupun pedagang hewan ternak sapi. Belum ada gejolak imbas dari merebaknya wabah PMK di luar daerah terhadap aktivitas perdagangan di Kabupaten Sukoharjo.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo melihat kondisi tersebut disebabkan karena Kabupaten Sukoharjo mampu swasembada ternak dan daging sapi sendiri. Jumlah populasi hewan ternak sapi di Kabupaten Sukoharjo sangat melimpah sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Jumlah peternak sapi di Kabupaten Sukoharjo juga sangat banyak tersebar disejumlah wilayah. Hal ini berdampak besar pada peningkatan populasi hewan ternak sapi di Kabupaten Sukoharjo.

“Jumlah ternak sapi dari luar daerah yang masuk ke Kabupaten Sukoharjo sedikit. Sebab populasi ternak sapi Kabupaten Sukoharjo sangat banyak dan tidak bergantung dari kiriman luar daerah. Kabupaten Sukoharjo mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal bahkan juga membantu memenuhi kebutuhan daerah lain,” ujarnya.

Bagas menjelaskan, kondisi tersebut membuat Kabupaten Sukoharjo selalu tidak terpengaruh apabila ada serangan penyakit pada sapi di luar daerah. Sebab selain mampu memenuhi kebutuhan sediri dengan melimpahnya populasi ternak sapi, sistem proteksi dini sangat ketat sudah lama diterapkan terhadap peternak sapi di Kabupaten Sukoharjo agar sapi yang diternak tidak mudah terserang penyakit.

“Justru sapi dari peternak Sukoharjo banyak dikirim ke luar daerah untuk memenuhi kebutuhan beberapa daerah. Sapi ini dalam kondisi sehat dan Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo sangat ketat melakukan pengawasan. Tidak hanya sehat tapi juga menghasilkan sapi berkualitas. Dengan demikian mampu meningkatkan kesejahteraan peternak,” lanjutnya.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo tetap melakukan pengawasan penuh setelah muncul wabah PMK. Peternak dan pedagang hewan ternak sapi terus mendapat pendampingan.

“Banyak peternak sapi baru muncul di Sukoharjo. Ini juga kami awasi dan dampingi. Jangan sampai kecolongan mereka memasukan sapi dari luar daerah dalam kondisi sakit. Kami minta gunakan sapi indukan lokal dari Kabupaten Sukoharjo,” lanjutnya.

Bagas menambahkan, untuk harga hewan ternak sapi juga masih normal sekarang meski ada wabah PMK di luar daerah. Sapi dijual dengan kisaran harga bervariasi mulai Rp 17 juta per ekor hingga Rp 30 juta. Harga kemungkinan akan mengalami kenaikan menjelang Idul Adha mendatang. (Mam)

BERITA REKOMENDASI