UKM Perempuan Siap Hadapi Pasar Bebas

Editor: Ivan Aditya

SOLO (KRjogja.com) – Pasar bebas termasuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ternyata sangat mempengaruhi keberlanjutan Usaha Kecil Menengah (UKM) kelompok perempuan. Karena UKM perempuan kurang cukup siap menghadapi persaingan bebas sehingga yang terjadi pasar bebas memperpuruk usaha mereka. Hal ini diungkapkan Yanti Susanti, Sekretaris Eksekutif Wilayah Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) Jawa disela konsolidasi jaringan PUK Wilayah Jawa di Hotel Lampion Solo, Jumat (18/11/2016).

Masuknya berbagai dari luar seperti Cina dan Malyasia sangat menyulitkan usaha kecil kelompok perempuan. Dari kemampuan produksi tidak seperti pabrik mengingat sebagai pengrajin. Sementara tingkat kesulitan yang dihadapi masih beraneka. "Secara umum perempuan menghadapi kesulitan untuk mengakses modal barang dan sebagainya," jelas Yanti.

Sementara komitmen pemerintah terhadap ASPPUK juga masih kurang. Yanti mencontohkan menjamurnya mini market. Ini sangat menghalangi pertumbuhan mengingat kaum perempuan banyak yang membuka usaha kelontong, selain itu produk yang dihasilkan Jarpuk juga sulit untuk bisa masuk ke mini market.

"Ini karena tidak adanya komitmen pemerintah. Lain di Kulonprogo produk Jarpuk bisa masuk, karena kepemilikan mini market diambilalih kabupaten," katanya.

Menghadapi berbagai persoalan di atas ASPPUK mencoba mencarikan solusi agar UKM perempuan tetap bisa eksis. Salah satunya dibentuknya Lembaga Keuangan Perempuan (LKP) yang berbadan hukum koperasi. Melalui wadah ini bisa mengatasi kesulitan akses keuangan yang selama ini dihadapi UKM perempuan, tanpa agungan mereka bisa meminjam Rp 15-20 juta.

Kemudahan pencarian dana melalui LPK dibenarkan Esti Kriswandari Asih, Jarpuk dari Solo. Sistem penyaluran dana pinjaman LKP tidak diberikan kepada orang perorang, melainkan lewat Jarpuk. Dengan cara ini berarti tanggung renteng. Ketika terjadi kredit macet ditanggung bersama oleh kelompoknya dan di Solo bisa berjalan baik.

Yanti menambahkan strategi yang diinisiasi ASPPUK Wilayah Jawa untuk mengeluarkan perempuan usaha kecil-mikro dari jeratan persoalan yang membelit dalam upaya meningkatkan kesejahteraan adalah mengorganisir PUK (Perempuan Usaha Kecil)untuk berjejaring kedalam jaringan PUK (JarPUK) di tingkat kabupaten. Strategi ini rupanya cukup efektif, sehingga secara political power keberadaan PUK lebih diakui dan mendapatkan akses. Di wilayah Jawa, ada 28 Jarpuk dengan anggota kurang lebih berjumlah 25.000 PUK yang tersebar di seluruh wilayah desa. (Qom)

BERITA REKOMENDASI