Unit Produksi Bisa Jadi Solusi Lulusan SMK

Editor: KRjogja/Gus

SOLO, KRJOGJA.com – Unit produksi dinilai menjadi salah satu solusi bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi, terutama terkait dengan kualitas lulusan. Setidaknya, unit produksi ini menjadi wahana praktik dalam bentuk kerja riil dalam porsi lebih besar ketimbang teori, selain pula memungkinkan pendapatan untuk mendukung biaya operasional sekolah bersangkutan.

Direktur Politeknik ATMI Solo, T Agus Sriyono SJ, menjawab wartawan, di kantornya terkait agenda Rembug Vokasi untuk Ibu Pertiwi, Senin (19/11), mengungkapkan, saat ini memang ada semacam kegelisahan atas keberadaan pendidikan vokasi, diantaranya banyak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menganggur. Di sisi lain, kalangan industri sebenarnya memerlukan banyak lulusan SMK, hanya saja mereka kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan.

Ada semacam kesenjangan antara kualifikasi lulusan pendidikan vokasi dengan kebutuhan tenaga kerja industri, ujarnya, akibat berbagai persoalan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar. Keterbatasan peralatan praktikum serta ketersediaan tenaga instruktur memadai, tambah pria yang akrab disapa Romo Agus, seringkali dianggap sebagai masalah utama, selain pula persoalan lain, termasuk regulasi.

Namun hal tersebut, sebenarnya bukan kiamat bagi upaya menelorkan lulusan pendidikan vokasi yang handal serta memenuhi kualifikasi dunia kerja. Pada tahun-tahun awal Politeknik ATMI berdiri, jelasnya, menghadapi persoalan sama. Tetapi dengan terobosan pola pendidikan, termasuk pengembangan unit produksi, Politeknik ATMI mampu menelorkan lulusan handal, bahkan saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 20 persen dari permintaan sejumlah industri baik dalam maupun luar negeri.

Terkait dengan Rembug Vokasi untuk Ibu Pertiwi, pihaknya bersiap melakukan pendampingan kepada lembaga pendidikan yang membutuhkan. Terlebih, agenda Rembug Vokasi untu Ibu Pertiwi itu sendiri muncul dari kegelisahan spontan kalangan pengampu pendidikan vokasi lewat grup WhatsApp. "Kegelisahan itu kami tangkap dan menginisiasi untuk bertukar pengalaman, hingga memperoleh solusi untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan vokasi," jelasnya.

Persoalan yang dihadapi pendidikan vokasi memang sangat kompleks, tegas Romo Agus, tetapi lebih baik menyalakan lilin di tengah kegelapan ketimbang bertahan di tempat gelap itu sendiri. Paling tidak puluhan SMK di sejumlah daerah di Indonesia yang memperoleh pendampingan dari Politeknik ATMI sejak beberapa tahun silam, saat ini mampu berkembang cukup baik, dengan indikasi kualitas lulusan sekolah tersebut diakui dunia kerja. (Hut)

 

BERITA REKOMENDASI