UNS Bantu Konservasi Fosil Sangiran

SOLO, KRJOGJA.com – Temuan fosil di Sangiran Sragen agar tidak mudah rusak dibutuhkan upaya konservasi. Salah satunya memberikan bahan perekat alami yang bersifat fleksibel. Bahan perekat ini merupakan sentuhan teknologi yang dihasilkan peneliti dari Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
 
"Jadi kami telah memabantu upaya konservasi fosil di Sangiran agar tidak mudah rapuh," jelas Dr Sayekti Wahyuningsih yang didampingi Dekan FMIPA Prof Dr Ari Handono dan Wakil Rektor 1 Prof Sutarno Msc PhD usai pembukaan 3rd International Conference on Advanced Materials for Better Future 2018 (3rd ICAMBF 2018) di Solo Paragon Hotel, Senin (15/10).
 
Dijelaskan fosil fosil meski telah ditempatkan secara khusus, namun masih tetap terancam rusak. Kondisinya bisa rapuh dan semakin rusak. Menghadapi hal itu Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam menyodorkan konsolidan perakat alam bersifat fleksibel. Perekat vinolic yang berasal dari getah kulit jambu mete, damar dan gondorukem.
 
Jadi limbah kulit jambu mete dikumpulkan dan diproses menjadi bahan perekat. Bahan perekat ini sesuai dengan sifat fosil. Sentuhan teknologi ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan temuan fosil bersejarah di Sangiran. "Kita kaya sumber daya alam, tapi tanpa teknologi tak akan maksimal," tambah Prof Sutarno.
 
Conference ICAMBF dihadiri sejumlah pembicara dari luar negeri diantaranya Prof. Ko Tzu Hsiang, Presiden, Lunghwa University of Science and Technology, Taiwan, Prof. Ko Kuan Nin, Direktur International Office Lunghwa University of Science and Technology, Taiwan, Prof. Dato' Dr. Burhanuddin Yeop Majlis, Direktur of Institute of Microengineering and Nanoelectronics (IMEN), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Malaysia dan Prof. Santiago Gomez Ruiz, Rey Juan Carlos University, Móstoles (Madrid) (Qom)

BERITA REKOMENDASI