Upacara Adat Wahyu Kliyu Bareng Grebek Lawu 2017

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Penyelenggaraan upacara adat Wahyu Kliyu di Jatipuro pada tahun ini terasa lebih semarak dengan menghadirkan kirab budaya empat kecamatan di Grebeg Lawu 2017. Masyarakat dapat menyaksikan berbagai event sejak siang, dari sebelumnya hanya balangan apem tengah malam.

Grebeg Lawu yang merupakan sajian anyar adalah kolaborasi potensi Kecamatan Jumantono, Jumapolo, Jatiyoso dan Jatipuro. Antara lain festival karawitan, festival kuliner, kirab budaya, pentas seni, wayang kulit semalam suntuk dan pentas wayang orang RRI. Event pendukung Wahyu Kliyu di seputaran Terminal Jatipuro itu tak kalah semarak dari acara puncak yang dihelat di Dusun Kendal, Desa/Kecamatan Jatipuro tiap tanggal 15 Sura (Muharam). Acara pendukung itu sengaja dihelat dalam rangkaian pesta rakyat menyambut HUT ke-100 Kabupaten Karanganyar. 

Jelang tengah malam, masing-masing keluarga di lingkungan itu berkumpul di pelataran balai dusun untuk berdoa. Mereka juga membawa ubo rampe berupa kue apem buatan sendiri ke lokasi upacara adat. Diyakini, tirakat secara khidmat bakal membawa kebaikan bagi warga, sehingga beberapa hal perlu diperhatikan. Seperti wadah apem harus bersih atau baru dan disunggi di atas kepala atau pundak namun tidak boleh dijinjing. Tepat tengah malam, pemuka agama memberi komando dengan mengucap ‘Wahyu Kliyu’ berulang kali sambil melempar apem dari wadahnya ke pelataran balai dusun, diikuti semua warga. Tak berapa lama berlalu, pelataran beralas daun pisang sudah penuh berisi kue apem. 

“Ucapan Wahyu Kliyu diyakini dari kalimat zikir Yaa Hayyu Ya Qoyyum. Yang artinya Allah maha pemberi kekuatan. Tradisi ini turun temurun dan sekarang menjadi obyek wisata religi di Karanganyar,” kata Camat Jatipuro, Eko Jati Hartoyo kepada wartawan, Jumat (6/10) malam. 

Di sini, sebaran apem tidak lantas direbut warga. Kue beras itu dipersilakan diambil sepuasnya dari pelataran balai dusun. Sebagian membawa pulang kemudian disantap bersama keluarga atau keperluan ‘ngalap berkah’ sesuai keyakinannya.  

Terlepas dari hal itu, lanjut Eko, tradisi sebaran apem di Jatipuro, memupuk rasa persatuan dan toleransi masyarakat prural Jatipuro. Mereka tetap memegang teguh pesan moral Wahyu Kliyu, serta mengembangkan potensi kearifan lokal. (Lim)

BERITA REKOMENDASI