Upacara Bendera di Bukit Sampah, Pemulung Butuh Perhatian Pemerintah

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Upacara bendera dalam menyambut HUT ke-74 RI berlangsung di bukit sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari, Jumantono, Sabtu (17/8). Ini merupakan cara paguyuban pemulung memantik perhatian pemerintah tentang tentang minimnya perhatian bagi kalangan marginal tersebut. 

Upacara bendera ini diikuti 30 pemulung yang kebanyakan ibu rumah tangga. Bukit sampah dipilih menjadi lokasi upacara karena paling memungkinkan untuk menancapkan bendera dan prosesinya. Sikap khidmat ditunjukkan para peserta upacara saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan.

Barang-barang yang semula dijinjing, diletakakkan seperti keranjang sampah dan sapu lidi. Mereka lalu mereka menghormat ke merah putih. Prosesi upacara bendera tanpa cela meskipun berada di tempat tak biasa. Teks proklamasi juga dilafalkan lantang. Para ibu rumah tangga itu memekikkan merdeka, pancasila lima dan NKRI harga mati. 

Baca Juga : 

Mak-mak Misterius Pemulung Jemuran Malam-malam, Siapa Dia?

Inisiator Kegiatan dari Komunitas Jumat Berkah, Kiswadi Agus mengatakan para pemulung juga bagian dari penduduk Indonesia. Mereka berkewajiban melaksanakan upacara bendera yang diwadahi paguyubannya. Upacara kali ini selain untuk memperingati HUT ke-74 RI juga ingin menggugah perhatian pemerintah terhadap kalangan marginal. 

"Para pemulung mengais rezeki di sini (TPA Sukosari). Upacara bendera juga di sini pula," katanya. 

Dalam upacara itu, pemulung mengingatkan pemerintah agar memenuhi hak-hak dasarnya. Banyak diantara mereka sulit mengakses jaminan kesehatan maupun sosial lantaran pendataan yang karut marut. 
"Pemulung ini juga pejuang bagi keluarganya. Sudah sepatutnya mendapat penghargaan. Minimal, kebutuhan dasar yang jadi tanggungan pemerintah, diterimanya," katanya. 

Pemulung asal Sukosari, Ngadiyem (60) mengaku terharu sekaligus bangga mengikuti upacara bendera di TPA Sukosari. Ia yang selama ini dipandang sebelah mata, ternyata bagian penting NKRI dalam menyelamatkan lingkungan. 

"Sudah puluhan tahun mengais sampah. Memilah dan menjualnya. Kalau enggak ada kami, siapa yang akan mengurangi volume sampah di TPA?" katanya. 

Di TPA ini terdapat 30 pemulung yang rata-rata manula. Samiyem (65) mengatakan senang bisa mengikuti upacara bendera.  "Baru sekali ini upacara bendera. Rasanya bangga. Selamat HUT ke-74 RI. Semoga ke depan lebih sejahtera," katanya. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI