Vila dan Hotel di Tawangmangu Terancam Gukung Tikar

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Sejumlah pemilik tempat penginapan di area wisata Tawangmangu menggadaikan aset-asetnya untuk menutup biaya operasional. Pemesanan kamar yang semula diandalkan menutup belanja, kini tak berlaku demikian. Tingkat keterisian kamar di sebagian vila dan hotel nyaris nol.

Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Karanganyar, Kawardi mengatakan hotel-hotel melati dan vila di Tawangmangu merasakan dampak buruk pandemi Covid-19. Tingkat keterisian kamar rata-rata hanya 20 persen. Bahkan di hotel kelas menengah ke atas, hampir tak ada tamu menginap pada saat pemberlakuan pembatasan aktivitas masyarakat yang dicetuskan pemerintah.

“PPKM dilanjutkan ke mikro. Kalau misalnya ada yang positif Covid-19 di sekitar hotel, apa enggak repot. Tentu hotel harus tutup. Sebelum ini sudah sepi sekali,” katanya kepada wartawan, Rabu (10/02/2021).

Langkah merumahkan sebagian karyawan sudah dilakukan. Namun beberapa perusahaan perhotelan dan vila merasakannya belum cukup. Akhirnya, aset dijual termasuk menggadaikan hotel dan vilanya ke bank.

“Mereka mengeluh luar biasa. Sementara nombok, juragane nombok dulu. cukup atau enggak untuk besoknya tidak tahu. Kalau situasinya terus begini otomatis lama kelamaan juga menjual asetnya itu, pasti itu,’’ kata pria yang juga anggota Komisi A DPRD Karanganyar ini.

Marketing Communication Nava Hotel Tawangmangu, Devi Susanti menyampaikan, adanya kebijakan PPKM tahap pertama dan kedua, berdampak besar terhadap penurunan tingkat hunian.
Selain itu juga berdampak terhadap beberapa event atau acara lainnya yang digelar di hotel.

“Januari 2021 tingkat hunian turun rata-rata 30 hingga 35 persen. Untuk acara turun sampai 60 persen seperti gathering, event, dan lainnya,” katanya.

Menurutnya, adanya PPKM sebenarnya untuk tamu non grup tidak terlalu mengalami penurunan drastis. Hanya saja tamu dari grup itu yang terasa sekali penurunannya. Ada beberapa acara yang terpaksa dibatalkan karena adanya pembatasan kegiatan.

Ia menjelaskan, pengelola lantas melakukan efisiensi untuk dapat tetap bertahan dalam kondisi seperti saat ini. Seperti penghematan daya listrik, merumahkan karyawan dengan sistem libur tanpa dibayar, serta penghematan pengeluaran yang sekira tidak diperlukan. (Lim)

BERITA REKOMENDASI