Waduk Mengering, 1988 Hektare Sawah Kurang Air

Editor: KRjogja/Gus

SRAGEN, KRjogja.com – Sedikitnya 1.988 hektare sawah di Kecamatan Kedawung dan Karangmalang, Sragen, terancam kurang maksimal hasil panennya. Hal ini dikarenakan tidak adanya lagi pasokan air dari Waduk Botok sejak awal Mei lalu karena kondisi waduk yang mulai mengering.

Waduk yang terletak di Desa Mojodoyong, Kecamatan Kedawung, Sragen, ini diketahui sudah mengering dan debitnya tinggal 450 liter per detik, yang hanya cukup untuk mengairi maksimal 500 hektare. Padahal total lahan pertanian yang biasa dialiri air dari Waduk Botok mencapai 2.488 hektare.

Para petani masih beruntung karena umur tanaman padi mereka mendekati masa panen dan sebagian sudah mulai panen. Praktis pada musim tanam III, para petani tidak bisa lagi menanam padi karena tidak adanya pasokan air.

Operator Pintu Waduk Botok, Sutrisno, kepada wartawan Jumat (14/6) mengatakan, sumber air Waduk Botok selain menampung air hujan juga sebagai penerima suplai air dari delapan bendungan yang ada di wilayah Kabupaten Karanganyar yang hulunya berada di Kemuning. Luas waduk yang mencapai 15 hektare itu hanya mampu menampung air maksimal 1.250 liter per detik.

"Padahal potensinya mencapai 2.000 liter per detik. Saat hujan deras di hulu, maka debitnya bisa sampai 5.000 liter per detik. Artinya, saat musim penghujan banyak air yang dibuang sementara saat kemarau kekurangan air seperti sekarang ini," ujarnya.

Menurut Sutrisno, keringnya waduk buatan 1940 ini terhitung maju sebulan dari kondisi tahun-tahun sebelumnya. Dia menyampaikan pada tahun-tahun sebelumnya waduk mengering mulai Juli-Agustus tetapi sekarang Mei-Juni sudah mengering.

Sutrisno menyatakan setelah Waduk Gondang di Karanganyar dioperasionalkan maka kebutuhan irigasi pertanian di Sragen menjadi terjamin karena air yang terbuang saat musim penghujan bisa tertampung di Waduk Gondang.

Total layanan irigasi Waduk Botok mencapai 16 desa plus Desa Botok di wilayah Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar. Dia mengatakan debit sekarang tinggal 450 liter per detik dan dengan debit itu maksimal hanya bisa mengairi 500 hektare untuk desa-desa di sekitar Waduk Botok.

"Para petani yang belum panen hanya mengandalkan hujan atau sumur pantek. Ada juga beberapa bagian tanaman padi yang mengering dan tidak bisa dipanen karena kekurangan air. Jadi hasil panen menjadi kurang maksimal," tuturnya. (Sam)

BERITA REKOMENDASI