Wakil Ketua BPK : Newcumbent Inovatif Ganggu Incumbent Birokratis

SOLO, KRJOGJA.com – Di era disruptif , yang ditandai serba digital, industri yang akan mendapatkan dampak ekonomi secara langsung adalah industri mobile internet dengan perkiraan transaksi ekonomi per tahunnya mencapai empat sampai dengan sebelas triliun dollar Amerika Serikat (USD). 
Ditempat kedua jenis industri automation of knowledge work yang mencapai nilai enam sampai dengan tujuh triliun USD.

Sementara dengan perkembangan teknologi, muncul pemain-pemain baru (newcumbent) yang inovatif, efisien, bergerak cepat yang mengganggu pemain-pemain lama (incumbent) yang cenderung sudah mapan dan lambat dibebani birokrasi.

Pemain baru disebut disruptif, mengganggu ekuiliberium yang selama ini terjaga dalam perubahan yang lambat.  Disrupsi terjadi dalam banyak bidang dengan tidak dibatasi posisi geografis/batas negara. Seluruh sektor usaha, transportasi, perdagangan, perbankan, industri pariwisata terguncang oleh
perusahaan start ups teknologi.

Dua pembicara masing-masing Prof Dr Bahrullah Akbar MBA, Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Keynote  Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dibacakan oleh Sumiyati, Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan Republik  Indonesia saat berlangsung Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Nasional III  Forum Komunikasi Satuan Pengawasan Intern (FKSPI) 2018  di Solo, Kamis (9/8/2018).

Menurut Prof Dr Bahrullah Akbar MBA, Secara kontradiktif disrupsi teknologi telah menurunkan secara drastis industri minyak dan gas menjadi maksimal satu triliun USD pertahun. Fakta Iain dari adanya disrupsi digital adalah terbentuknya bisnis — bisnis baru berbasiskan teknologi yang tidak membutuhkan biaya overhead tinggi dalam operasinya.

"Misalnya bisnis transportasi yang tidak memerlukan investasi armada kendaraan, tidak adanya persediaan dalam bisnis retail, perusahaan akomodasi tidak membutuhkan real estate, adanya branchless banking dalam bentuk financial technology (fintech)," jelasnya.

Selain itu, lanjut Wakil Ketua BPK, segitiga governance, risk dan control (GRC) merupakan kunci utama dalam membantu internal auditor untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Governance diatur dalam standar 2110 yang berbunyi kegiatan audit internal harus menilai dan membuat rekomendasi yang tepat untuk meningkatkan proses tata kelola dalam pencapaiannya dengan beberapa tujuan. 

"Misalnya mempromosikan etika dan nilai yang sesuai di dalam organisasi, memastikan manajemen kinerja dan akuntabilitas organisasi yang efektif serta mengkomunikasikan informasi risiko dan kontrol ke area yang sesuai,"ujar Prof  Dr Bahrullah Akbar. (Hwa)

BERITA REKOMENDASI