Walau Harga Melonjak, Masyarakat Sragen Ikut Memburu ‘Empon-Empon’

SRAGEN, KRJOGJA.com – Maraknya pemberitaan kasus virus corona tidak hanya membuat warga Sragen berburu masker.  ‘Empon-empon’  atau rempah yang diklaim bisa menangkal penularan corona juga laris manis diburu. Para penjual empon-empon di sejumlah pasar sampai kewalahan melayani pembeli.

Surani (58) penjual empon-empon di Pasar Bunder Sragen, Jumat (6/3) mengatakan, sejak pengumuman Presiden Jokowi terkait temuan virus corana di Indonesia beberapa waktu lalu, pembeli yang memburu rempah langsung melonjak. Jika hari biasa maksimal hanya 30 orang yang beli, kini setiap hari bisa mencapai 100 orang pembeli.

Menurut warga Mojo Wetan RT 3/3, Sragen Kulon ini, jika sebelumnya pembeli hanya mencari rempah untuk bumbu, kali ini mayoritas membeli rempah-rempah untuk meningkatkan ketahanan tubuh. “Sejak Pak Jokowi mengumumkan kemarin, pembeli langsung laris. Yang banyak dibeli sere, kayu manis, jahe, kunyit dan temulawak,” ujarnya.

Surani menuturkan, mayoritas pembeli saat ini membeli rempah untuk herbal. Banyak juga yang mencari jahe merah, namun barangnya sulit dan harganya mahal sehingga dirinya memilih tidak menjual. Akibat tingginya permintaan, harga mulai merangkak naik meski tidak signifikan seperti masker. “Jahe naik dari Rp 32.000 jadi Rp 35.000 sekilo. Kunyit naik jadi Rp 6.000 dari biasanya Rp 4000. Temulawak juga naik Rp 6000, biasanya hanya Rp 5.000. Jahe merah yang paling mahal Rp 50.000 sekilo tapi barang tidak ada. Biasanya hanya Rp 40.000. Kalau khasiatnya memang bagus untuk kesehatan, karena rempah-rempah itu herbal,” jelasnya.

Pedagang lain, Siti Rohani (32) asal Mojo, Sragen Kulon, Sragen juga mengakui adanya kabar virus corona, pembeli yang datang juga meningkat. Ia menyebut baru dua hari terakhir jumlah pembeli mulai naik. Rata-rata mereka memburu rempah jenis temulawak, jahe, kunyit, kayumanis dan sereh. “Sehari bisa 40an orang pembeli. Biasanya 20 orang saja nggak ada. Kalau hari biasa yang beli cuma pedagang jamu gendong. Harga juga naik, kisaran Rp 1000 sampai Rp 3000 perkilo,” tuturnya.

Tak hanya rempah-rempah basah, ramuan herbal dari rempah yang siap konsumsi juga laris manis diburu. Salah satu pedagang di Pasar Bunder, Rusmiyati (53) asal Plumbungan Indah RT 29, Plumbungan, Karangmalang, Sragen menuturkan rempah jadi yang juga laris adalah wedang uwuh.

“Dua hari ini mulai banyak yang mencari. Satu pak isi 10 saya jual Rp 27.000, harga normal dan belum naik. Komposisinya jahe, temulawak, akar pakis, lengkap. Tinggal direbus sudah siap konsumsi. Bagus juga untuk daya tahan tubuh makanya sejak ada kabar corona, wedang uwuh juga laris,” tandasnya. (Sam)

BERITA REKOMENDASI