Waspadai Komorbid, Abai Protokol Kesehatan Picu Peningkatan Kasus

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Penularan Covid-19 dari aktivitas membesuk pasien perlu dihindari. Satgas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Kabupaten Karanganyar menemukan pola baru inveksinya dari aktivitas berkontak erat tersebut.

“Memang benar menjenguk pasien itu wujud empati dan empati. Itu kewajiban kita berkehidupan sosial. Tapi lihat kondisi sekarang. Usai dijenguk, belakangan diketahui hasil swabnya keluar. Positif Covid-19. Kemudian menimbulkan kegaduhan. Mereka yang menjenguk dan berkontak erat sampai swab mandiri. Hasilnya ada yang positif. Menjenguk boleh tapi patuhi protokol kesehatan. Jangan berjabat tangan dan hindari interaksi langsung dengan pasien,” kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Kabupaten Karanganyar, Juliyatmono kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (2/11).

Para pasien komorbid atau memiliki penyakit penyerta paling rentan terinveksi Covid-19. Maka, pembesuk perlu mengantisipasi aktivitas penularannya. Ia tak menampik budaya membesuk pasien masih kuat di Karanganyar. Hal itu perlu disikapi secara bijak demi kebaikan bersama.

“Kuncinya kedewasaan masyarakat. Covid-19 jangan disepelekan. Hindari kontak erat, sering cuci tangan, pakai hand sanitizer, pakai masker. Jangan abai. Saya melihat prokes mulai diabaikan dan menganggap pandemi bukan lagi ancaman,” katanya.

Kondisi abai tersebut terbukti memperparah kasus di Karanganyar. Tercatat hingga Minggu (1/11) sebanyak 200 kasus positif Covid-19 dengan 568 kontak erat dan 53 kasus kematian. Status zona merah masih disandang kabupaten ini.

Lebih lanjut Juliyatmono yang juga Bupati Karanganyar mengatakan pengetatan perlu lebih ditingkatkan. Satpol PP bersama tim Polres, TNI, Dinkes dan relawan melakukan razia secara rutin di tempat umum sampai Desember 2020. Tujuannya memberi penegasan kepada masyarakat terkait disiplin protokol kesehatan. Sanksi pelanggarannya berupa denda uang atau sanksi sosial.

Sementara itu kemunculan klaster perkantoran makin sering. Kali ini, Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah lockdown. Kantor ini belum juga satu hari membuka layanan sudah tutup lagi sampai waktu yang belum ditentukan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Sugeng Raharto membenarkan salah seorang karyawannya terinveksi Covid-19. Saat ini yang bersangkutan dirawat di RS. Rencananya, seluruh karyawan di kantornya diswab PCR.

“Kami langsung koordinasi ke Dinkes. Akan dijadwalkan swab semua. Ada satu karyawan yang sebenarnya sudah sakit di RS. Baru kemudian hasilnya positif Covid-19. Itu salah satu faktor mengapa kita menutup layanan perpustakaan,” katanya.

Sebelumnya, kantor ini memang sudah lama tidak membuka pelayanan sejak awal pandemi pada Maret lalu. “Baru mau buka lagi setelah sekian lama sudah ditutup lagi,” katanya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI