Waspadai Spekulan, Pemilik Dilarang Jual Tanah

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Warga pemilik lahan di area proyek pembangunan Jembatan Jokowi di Desa Kragan, Gondangrejo dan Desa Kebak, Kebakkramat diminta menahan diri untuk tidak menjual asetnya itu. Ditengarai, lahan tersebut menjadi incaran kalangan spekulan.

“Kami berpesan ke pak camat dan pak lurah, jangan menyetujui mutasi tanah di area proyek jembatan penghubung Desa Kragan, Gondangrejo dengan Desa Kebak, Kebakkramat. Kasihan pemilik aslinya kalau hanya dimanfaatkan spekulan. Dibelinya murah tapi setelah mau dipakai jembatan jadi mahal. Spekulan yang untung besar,” kata Kepala Bagian Pemerintahan Umum Setda Karanganyar, Ali Gufron kepada wartawan di ruangannya, Senin (11/9).

Pemkab Karanganyar menganggarkan Rp 5 miliar di APBD perubahan 2017 untuk membebaskan lahan proyek jembatan tersebut. Bagian Umum Setda menerjunkan tim apraisal dengan masa kerja dua bulan. Setelah selesai mengukur dan menaksir nilai aset, kemudian keluar harga tiap bidang.

Ali mengatakan, pembebasan lahan akan lebih lancar apabila dilakukan antara pemerintah dengan warga asli pemiliknya. Jika melalui proses mutasi dulu, banyak problem akan muncul mulai administrasi yang memakan waktu hingga spekulan berulah.

“Jika tanah laku tinggi, diharapkan warga asli pemiliknya yang merasakan keuntungan. Bukan orang luar,” katanya.

Sementara itu, Ali memastikan harga taksiran aset oleh tim apraisal pantas. Tawaran itu dihitung dari nilai ekonomis tanaman yang tumbuh di atasnya, hunian dan sebagainya. Tidak ada perubahan harga setelah nominalnya ditetapkan. 
Sehingga, pemilik aset dipersilakan menempuh konsinyasi atau penjualan lewat keputusan pengadilan apabila kurang puas.
“Harga apraisal itu final, enggak ada nego lagi. Kepada pemilik tanah, kalau kerso monggo. Kalau enggak sesuai keinginan, silakan konsinyasi,” katanya.

Kepala Desa Kebak, Kebakkramat, Murdo mengatakan, pihak Kecamatan Kebakkramat menginformasikan kebutuhan lahan Jembatan Jokowi sekitar 3.600 meter persegi berada di utara Dusun Sapen. Lahan itu berstatus kas Desa Kebak. Ia sendiri kurang paham luasan tanah di Desa Kragan yang dibutuhkan dalam proyek itu.

“Informasi dari kecamatan seperti itu. Saat ini berupa sawah produktif selama tiga musim tanam. Mengenai pembebasannya, kami berharap bisa diganti dengan tanah lainnya senilai ekonomis,” katanya. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI