Warga Terdampak Proyek Tol Demo ke BPN Klaten

Editor: Ary B Prass

KLATEN, KRJogja.com – Protes besaran ganti rugi, sejumlah warga terdampak pembangunan proyek jalan tol Yogya – Solo melakukan unjukrasa ke Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (15/6/2021). Mereka membawa puluhan spanduk, pohon pisang hingga pohon sengon. Mereka menuntut agar diberikan ganti rugi tanah maupun tanaman secara lebih layak.

Budiyono dan Widodo, warga terdampak proyek tol Yogya – Solo mengemukakandi Joton, Jogonalan mengemukakan, mereka protes ke BPN, setelah pada Senin  (14/6/2021) malam mendatangi BPN untuk minta penjelasan terkait ganti rugi tanah dan tanaman. Namun demikian, penjelasan pejabat pembuat komitmen (PPK) justru mengecewakan warga, karena dikatakan jika harga sudah ditentukan, dan tidak bisa diubah lagi.

“Katanya ada musyawarah, ternyata hanya slogan saja, pada kenyataan musyawarah harga tidak ada sama sekali. Harga sudah dipatok, masyarakat tidak boleh mengusulkan, dan harga itu tak akan bisa berubah. Jika masyarakat menolak supaya langsung ke pengadilan. Lha kami masyarakat keciltidak tahu apa-apa tentang pengadilan,” kata Budiyono.

Lebih lanjut Budiyono mengemukakan, warga terdampak mendukung adanya proyek tersebut, namun demikian minta agar hak dan kepentingan warga terdampak juga diperhatikan.

“Ada tujuh ribu pohon pisang hanya dihargai 5 juta. Kami mau tanya apprisal dapat patokan harga darimana? Mengacu dari ganti rugi di Desa Kadirejo, tanah yang dekat jalan harganya justru lebih murah dari tanah yang ada di dalam. Ini sangat ironis, karena semestinya harga tanah dekat jalan yang lebih mahal,” jelas Budiyono pula.

Widodo menambahkan, tanah sawah miliknya juga terdampak pembangunan proyek Tol tersebut. Per patok sawah hanya dihargai antara Rp 300 juta hingga Rp 400 juta, padahal harga tanah di lokasi tersebut sekarang ini per patok sudah mencapai Rp 1 miliar lebih.

Nugroho Warga Borangan, mengatakan tanahnya seluas sekitar 1.500 meter juga terkena proyek tol Yogya- Solo. Ia menuntut agar diberikan ganti rugi tanah dan tanaman yang layak, sehingga bisa untuk membeli tanah pengganti. “Tanaman saya hanya dihargai Rp 4 ribu per batang, tolong perhatikan nasib rakyat kecil. Harusnya harga normal pohon sengon per batang Pp 75 ribu sampai Rp 100 ribu,” kata Nugroho.

Warga pengunjukrasa tidak berhasil menemui Kepala BPN Klaten, karena Kepala BPN Klaten Agung Taufik Hidayat sedang ada kegiatan di Beku, Karanganom.

Agung Taufik Hidayat mengemukakan, sebelumnya pernah ada pertemuan dengan kepala desa dan warga terdampak proyek tol. Terkait ganti rugi tergantung dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) dalam melakukan appraisal. (Sit)

BERITA REKOMENDASI