Kemenperin Dorong Kerajinan dan Batik Punya Daya Saing

YOGYA, KRJOGJA.com – Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta, sebagai unit pelaksana teknis di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian menggelar kegiatan temu pelanggan dengan tema ‘Bersama BBKB Menjadi Industri Kerajinan dan Batik yang Tangguh’ di Hotel Phoenix Yogyakarta, Rabu (4/3/2020). Kegiatan dihadiri tak kurang 145 peserta terdiri akademisi, asosiasi, pelaku industri dan berbagai dinas terkait.

Kepala BBKB Yogyakarta Ir Titik Purwati Widowati MP mengatakan, kegiatan temu pelanggan ini sebagai upaya mendorong peningkatan industri kerajinan dan batik di Indonesia yang berdaya saing. Menurut Titik, penerapan prinsip-prinsip industri 4.0 yang tidak meninggalkan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi jalan menuju industri tangguh dan peningkatan daya saing industri kerajinan batik di Indonesia.

“Hal-hal seperti penggunaan Internet of Things (IoT), industri atau bisnis berbasis big data dan artificial inteligence dapat menjadi jalan keluar agar industri kerajinan dan batik dapat berkembang dari stigma industri kecil atau rumah tangga menjadi industri besar,” terang Titik disela kegiatan.

Menurut Titik, saat ini dunia industri di seluruh dunia sedang bertransformasi menyambut Revolusi Industri 4.0 yang menekankan pada kolaborasi proses manufaktur dengan dunia digital. Kolaborasi ini mencakup beragam teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), wearables, robotika canggih, big data dan 3D printing. Kementerian Perindustrian telah meluncurkan inisiatif ‘Making Indonesia 4.0’ untuk mendorong penerapan awal dari teknologi ini dalam 5 sektor utama, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia dan elektronik yang memiliki dampak ekonomi dan kesiapan industri yang tinggi.

“Penerapan inisiatif tersebut bertujuan mendorong posisi Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030 dan memperoleh beberapa manfaat seperti peningkatan pertumbuhan PDB menjadi 6-7%, peningkatan lapangan kerja menjadi lebih 30 juta dan kontribusi manufaktur terhadap PDB menjadi 25%,” ujarnya. (Dev)

BERITA TERKAIT