Misi Turunkan Angka Stunting, BKKBN DIY Andalkan Tim Pendamping Keluarga

user
agus 30 Maret 2022, 16:44 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Pemerintah menargetkan angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 berada di bawah 14 persen. Bahkan Presiden Joko Widodo memberikan peringatan target tersebut harus menjadi perhatian seluruh pemerintah daerah di Indonesia.

Di Yogyakarta berdasarkan data tahun 2021 angka stunting berhasil diturunkan menjadi 17 persen. Meski belum mencapai target nasional, namun hasil ini cukup memuaskan sebagai bukti kerja keras pemerintah daerah dan masyarakat.

"Langkah strategis dan program khususnya dari perwakilan BKKBN DIY efektif menekan angka stunting di Yogyakarta dan selanjutnya kita berharap target nasional tahun 2024 dapat terwujud dengan peran serta yang baik dari masyarakat dan khususnya media dalam perannya ikut mensosialisasikan program-program kami," kata Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Shodiqin, SH.MM didepan forum Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) dalam acara Peningkatan Peran Serta Organisasi Kemasyarakatan dalam Penggerakan Program Bangga Kencana Tahun 2022, Rabu (30/3).

Shodiqin menambahkan salah satu program yang digencarkan perwakilan BKKBN DIY adalah program Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebagai upaya deteksi dini meminimalkan resiko stunting dalam keluarga. Saat ini terdapat total 1852 TPK yang tersebar diseluruh wilayah DIY.

Sementara Koordinator Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi BKKBN DIY, Dra. Ita Suryani, M.Kes mengatakan tugas dari TPK adalah melakukan serangkaian kegiatan terhadap keluarga yang memiliki ibu hamil, ibu pasca salin, anak di bawah 5 tahun dan calon pengantin untuk deteksi dini faktor risiko stunting.

Misi Turunkan Angka Stunting, BKKBN DIY Andalkan Tim Pendamping Keluarga

Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Shodiqin, SH.MM (batik hijau) saat memberikan sambutan.

Dalam kesempatan yang sama Dokter Nikko Vanda Limantara dari RSPAU Dr. S. Hardjolukito yang hadir sebagai pembicara menyampaikan kunci dari penanganan stunting adalah pemahaman yang baik dari ibu hamil khususnya batasan umur saat mengandung, gizi tumbuh kembang bayi hingga pola pengasuhan anak. Pemeriksaan rutin balita juga penting dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya stunting pada anak.

"Masih ada 30 persen balita tidak ditimbang rutin, sehingga tumbuh kembang dan asupan gizi tidak terpantau. Mitos-mitos dalam masyarakat terkait makanan bergizi juga berpengaruh bagi asupan anak," tambahnya.

Ketua IPKB, Umie Muaf, S.Sos. M.Sc menegaskan pentingnya peran media dalam penanganan stunting sebagai mitra strategis mensosialisasikan informasi dan memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat. (*)

Kredit

Bagikan