Unsoed Bekali Pembatik Pelajar, Pemkab Banjarnegara Diharap Bantu Pemasaran

user
Ary B Prass 04 Maret 2022, 12:27 WIB
untitled

PURWOKERTO, KRJOGJA.com - Dalam genggaman jari-jari lentik, canting itu meliuk-liuk di permukaan kain putih, menorehkan malam membentuk pola. Sekelompok perempuan muda merubung sebuah wajan kecil dan bergantian mengisi canting malam dari wajan tersebut. Nyaris tak ada suara apapun. Semua fokus pada selembar kain berwarda dasar putih yang sebagian sudah terdapat pola-pola batik.

“Mereka itu siswi SMA. Sedang belajar membatik,” tutur Dr Toto Sugito, anggota Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, akhir Februari lalu.

Bersama rekannya Dr Shinta Prastyanti, MA dan melibatkan 4 mahasiswa S1 Ilmu komunikasi dan 2 Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed, Totok tengah melakukan riset dan pelatihan membatik bagi para pelajar. Tidak kurang dari lima kelompok pelajar perwakilan empat sekolah di Kecamatan Purwareja Klampok, Kecamatan Susukan Banjarnegara dan sejumlah mahasiswa Unsoed dilibatkan dalam kegiatan yang berlangsung sejak awal Februari hingga akhir Februari 2022.

Program riset keilmuan ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2022. Diawali studi pendahuluan, sosialisasi dan survei penyebaran angket pada Januari 2022 tentang Batik khas Banjarnegara terhadap 100 pelajar di empat sekolah di Banjarnegara. Yakni SMA PGRI Purwareja Klampok, SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, SMK HKTI 2 Purwareja Klampok, dan SMK Negeri 1 Susukan dari jurusan Kriya Kreatif Batik dan Tekstil (KKBT).

Sosialiasai dan survai dilanjutkan dengan pelatihan membatik Tahap 1 yang dipusatkan di tempat perajin dan pengusaha Batik Wardah Desa Panerusan Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Pelatihan dilaksanakan lima kali, yakni pada setiap hari Sabtu dan Minggu selama bulan Februari 2022.

Ketua Tim Program Riset Keilmuan-Model Pemberdayaan Kewirausahaan Sosial Perajin Batik Berbasis Kearifan Lokal dan Teknologi Digital bagi Generai Muda, Dr Adhi Iman Sulaiman sebagai ketua tim riset menyebutkan, selama pelatihan, para pelajar dibekali empat keterampilan. Yakni mendesain batik tulis secara manual dan digital. Teknik pewarnaan membatik. Membuat batik inovatif  ecoprint. Dan strategi digital marketing. Bertindak sebagai pelatih, Budi Triyono (60), pemilik batik Wardah yang sudah malang melintang di bidang usaha batik tulis, cap, kombinasi dan printing.

Selain Budi Triyono, para pelajar itu juga mendapat pelatihan dari Leni Rahmayanti SPd, pakar ecoprint dari SMAN 1 Purwareja Klampok. Serta  beberapa instruktur lainnya, terdiri Dika Sulistiyo SP, Nanik Suparni A.MG, Drs Prasetiyo, Niken Hapsari SP MP, Arief Nurhandika dan SE M.Ak. Sedangkan Tim Riset Keilmuan Unsoed  membekali peserta pelatihan dengan teknik foto produk untuk periklanan di media digital seperti facebook, Instagram, whatsapp, digital marketing dan motivasi kewirausahaan.

Program riset dan pelatihan membatik LPPM Unsoed itu untuk menjaga potensi lokal batik Banjarnegara dari kepunahan. Saat ini sebagian perajin batik, termasuk di batik Wardah di Desa Panerusan Wetan, rata-rata usianya sudah lanjut, sekitar 50 - 65 tahun. Sementara generasi muda kurang tertarik melanjutkan usaha kerajinan batik. Upah membatik yang terbilang rendah, berkisar Rp 25 ribu - Rp 50 ribu perhari bisa jadi penyebabnya.  Sementara, pandemi Covid-19 membuat usaha batik sempat mengalami penurunan pasar.

Diharapkan, para pembatik usia tua di sentra Batik Banjarnegara yang banyak ditemui di Kecamatan Susukan, dapat diteruskan oleh generasi muda. Khususnya dalam promosi pemasaran produk batik dengan dukungan teknologi digital. Dengan sentuhan teknologi dan pemasaran secara digital, usaha batik Banjarnegara cukup prospektif.

"Para pelajar yang sudah kami bekali itu bisa membantu memasarkan produk batik tulis dari UMKM melalui media sosial. Dan bila mereka sudah lulus sekolah, tidak hanya bekerja di pabrik di kota-kota besar. Mereka bisa menjadi wirausaha yang tekun dan ulet, diantaranya bidang perbatikkan, " ujarnya.

Adhi Iman berharap Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bisa mendukung upaya menjaga eksistensi batik di daerahnya. Khususnya dalam hal pemasaran untuk membangkitkan dan mengembangkan UMKM batik khas Banjarnegara yang ada di Kecamatan Susukan. Misalnya dengan mewajibkan pelajar, pegawai di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten mengenakan batik khas Banjarnegara pada hari-hari tertentu.

“Itu sangat membantu nasib perajin batik,” ujarnya.

Sedang Cindi Muslikhah  (17), salah seorang peserta pelatihan menyebutkan, pelatihan yang diikutinya memantik minatnya untuk menekuni usaha batik. Siswi Kelas XII jurusan KKBT SMKN 1 Susukan itu memilih bidang bidang digital marketing yang akan ditekuninya.

Sementara, Fitri Nurhalimah (17)  ingin memperdalam desain model batik secara digital, disamping digital marketing.

"Saya tertarik memperdalam desain model batik dan marketing digital batik. Pelatihan ini telah menginspirasi siswi jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) SMK HKTI 2 Purwareja Klampok menekenuni wirausaha batik.  (Rus)

Kredit

Bagikan