Cukai Rokok Naik, Perokok DIY Protes Lakukan Gerakan “Tingwe”

user
Ary B Prass 14 Desember 2021, 13:47 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Kenaikan cukai rokok yang diketok pemerintah sebesar 12 persen mendapat tanggapan miring dari ekosistem rokok di DIY. Para petani dan pekerja buruh tembakau terancam sementara para perokok bersiap melakukan aksi protes atas kebijakan tersebut.

Triyanto, Ketua Asosiasi Petani Tembakau DIY, mengatakan pihaknya sangat kecewa dengan kenaikan cukai rokok hingga 12 persen karena akan berdampak pada para petani. Petani khawatir ketika nantinya harga rokok naik, produsen mengurangi jumlah produksi yang berimbas pada sedikitnya serapan tembakau dari petani.

“Imbasnya jelas ke kami, bahan baku tembakau penyerapan sedikit yang akhirnya merugikan petani. Belum diumumkan saja, harga rokok sudah naik. Perusahaan rokok membeli tembakau murah dari kami, tahun ini bahkan hanya Rp 20 ribu per kilogram padahal HPP kami Rp 70 ribu,” ungkapnya pada wartawan, Selasa (14/12/2021).

Sementara, Agus Becak Sunandar, Ketua Lembaga Konsumen Rokok Indonesia, mengatakan kenaikan cukai rokok memaksa mereka untuk beralih melinting sendiri. Para konsumen di DIY bahkan siap melakukan aksi protes, menggelar perlombaan tingwe alias linting dewe.

“Komponen cukai itu 60 persen dari produksi rokok. Kita beli langsung dari petani sangat murah. Kita beli 1 kilo jadi 1000 batang. Satu kilo Rp 70 ribu jadi dibagi seribu artinya Rp 70 per batang. Kalau sekarang ngeteng rokok merk bercukai Rp 1500 per batang, ya mending begitu,” ungkapnya lagi.

Ketika konsumen tak lagi membeli rokok bercukai, artinya menurut dia justru pendapatan pemerintah yang akan menurun meski cukai dinaikkan. “Kami sebenarnya dilema beli rokok tak memberi pemasukan pada pemerintah, tapi ya bagaimana karena kami juga dirugikan,” tandas dia.

Sementara, Pengurus Daerah Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (PD FSP RTMM - SPSI) DIY, Waljid Budi Lestarianto mengatakan adanya ancaman PHK bagi buruh rokok akibat kenaikan cukai rokok 12 persen itu. Ia menyebut paling tidak 1000 buruh di DIY yang berpotensi tak bekerja lagi sebagai dampak kenaikan itu.

“Kita baru sedikit bernafas setelah ada PPKM level-levelan itu, ini turun, pemerintah mbok ya kasih nafas dulu. Tapi ternyata tak didengarkan pemerintah. Kami menunggu Peraturan Menteri Keuangan terkait komposisi 12 persen itu Apakah untuk Sigaret Mesin Putih berapa, Sigaret Kretek Mesin berapa, lalu Sigaret Kretek Tangan berapa dan Cerutu berapa,” tegasnya. (Fxh)

Kredit

Bagikan