Cerita 'Goweser' Yogya Taklukkan Lomba 1.500 Km Bentang Jawa, Berhadiah ‘Kepuasan Batin’

user
agus 26 Oktober 2021, 12:13 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Rizkiaji Primastomo atau yang akrab disapa Bob, pesepeda antusias asal Yogyakarta, berhasil menyelesaikan perlombaan Bentang Jawa dengan jarak 1.500 kilometer antara Carita hingga Banyuwangi. Berbagai cerita menarik mengiringi perjalanan mengayuh sepeda balap besi dengan total waktu 109,5 jam.

Kepada KRjogja.com, Bob menceritakan event bersepeda ultra endurace race dengan jarak 1.500 kilometer memang baru kali pertama ada di Indonesia. Alasan itulah yang membuatnya bulat mengikuti Bentang Jawa yang digelar awal Oktober lalu.

“2020 kemarin sebenarnya benchmark saya jatuh cinta pada gowes jarak jauh. November 2020 saya merayakan setahun kembali bersepeda usai vakum tiga tahun dengan gowes 51 jam Jogja-Kintamani 750 km. Lalu festive500yk, 500 km saya selesai dalam 2 hari, tak lama setelahnya ikut audax 600km dan 1000km. Lalu dengar Bentang Jawa, dengan rute 1.500 km selatan Pulau Jawa, yasudah memutuskan ikut,” ungkapnya ketika berbincang, Selasa (26/10/2021).

Bob mulai mempersiapkan diri untuk event ultra endurance race tersebut. Apalagi, format balap membuat peserta harus berlomba cepat hingga ke titik akhir dan tak boleh ada bantuan dari pihak lain, membuat pesepeda wajib menyiapkan segala kebutuhan secara mandiri.

“Saya berlatih bersepeda tanpa program khusus, perhari rata-rata 2-3 jam dengan rute andalan ke arah barat, Godean, Minggir, Nanggulan, atau ke utara ke Kaliurang dan sekitarnya. Persiapan yang agak susah adalah menentukan settingan sepeda seperti ukuran ban, banyaknya perbekalan juga karena ini unsupported ride, jadi semua kebutuhan pribadi harus dibawa sendiri, peserta tidak dapat bantuan dari pihak luar/team support,” sambungnya.

Bersama 36 peserta lainnya, Bob dilepas dari Carita menuju ke timur melintasi jalur selatan Jawa. Berbagai tantangan dihadapi, terlebih seluruhnya harus dilewati sendiri, tanpa bantuan.

Rute selatan Jawa ternyata memiliki kontur jalan naik turun dengan perbukitan dan beberapa ruas jalan sangat dekat dengan pantai. Cuaca panas pun harus dirasakan juga perjalanan melelahkan karena ia harus bersepeda 20 jam setiap hari.

“Saya benar-benar harus bisa manajemen stamina, harus siap dangan rencana harian, disiplin makan, disiplin istirahat serta resiko mekanikal juga. Tetap sehat selama menempuh 1500 km adalah hal yang paling menantang,” lanjut dia.

Hari pertama bersepeda, Bob mengalami mekanikal problem yang cukup menyita waktu karena di kilometer 151 ban sepedanya bocor. Tak hanya itu, di kilometer 180, cyclocomp untuk mengukur kilometer bersepedanya error.

“Saya sempat reset 2 kali untuk kembali menguplod rute ke cyclocomp. Teratasi saya lanjut dan 87 kilometer kemudian saya terjebak di salah satu hutan di daerah Jampang. Sepi dan sangat gelap tanpa penerangan. Saya merasa rikuh malam itu. Saya merasa seperti berkegiatan malam di tempat yang tidak tepat. Karena itu di km 265 saya putuskan berhenti dan tidur di kampung terakhir,” lanjutnya.

Namun begitu, segala kelelahan di satu sisi, dibalas alam dengan suguhan keindahan di sepanjang perjalanan. Pemandangan indah perahu bersandar, puluhan sapi digembalakan di gunung bahkan sekadar keceriaan anak-anak sepulang sekolah menjadi penyemangat tersendiri bagi Bob untuk menyelesaikan tantangan rute 1.500 kilometer.

“Saat lewat Semanu Gunungkidul, beberapa kawan memberi suntikan semangat. Race ini bisa terpantau live tracking GPS melalui aplikasi RACEMAP. Berbekal pantauan melaui RACEMAP ini teman-teman dan warga mendukung dengan antusias. Saya sadari setelah masuk Jawa Timur, berkali-kali berjumpa warga sambil pegang handphone untuk merekam pergerakan sambil bersorak mendukung. Bahkan beberapa teman (peserta) cerita kalau mereka sempat diajak mampir istirahat, dikasih bekal makan minum. Luar biasa hangat dukungan dari masyarakat,” kenangnya.

Lebih dari 66 ribu orang menyaksikan perjalanan perlombaan Bentang Jawa tersebut, melalui RACEMAP. Energi positif pun terus muncul menemani Bob dan seluruh peserta dalam mengayuh pedal sepanjang perjalanan.

Bob berhasil menjadi peserta kedua yang tiba di titik finish 1.500 km Banyuwangi, dengan total 109 jam dan 30 menit bersepeda. Ia disambut biasa saja sama seperti seluruh peserta, tanpa podium, sorak sorai, pengalungan medali ataupun hadiah Rupiah.

Seluruh peserta saling merangkul satu sama lain, tidak ada rivalitas. Bagi Bob, bersepeda jarak jauh adalah tentang mengalahkan diri sendiri, ia pun memaknai perjalanan sebagai Sowan yang berarti menghadap atau berkunjung (ke yang lebih tua) pada leluhur Tanah Jawa.

“Tidak ada hadiah apapun dari lomba ini, kepuasan batin yang terefleksikan untuk saya pribadi jadi pencapaian. Bagi saya, semua peserta itu pemenang. Bukan saling mengalahkan satu sama lain, tapi menang karena mengalahkan diri sendiri, mengalahkan rasa lelah, lemah, takut dan mengalahkan ego pribadi,” pungkas dia. (Fxh)

Credits

Bagikan