Suksesi Pura Mangkunegaran, Persaingan Paundra dan Bhre Meruncing, Roy Bisa Jadi Jalan Tengah

user
danar 24 Oktober 2021, 10:10 WIB
untitled

SOLO, KRJOGJA.com - Suksesi di Pura Mangkunegaran belakangan menghangat menyusul adanya curhatan salah seorang kandidat raja atau adipati  yakni Paundrakarna Jiwa Suryanegara yang merasa disepelekan dan dugaan adanya persaingan tidak sehat untuk menjadi penerus tahta di Pura Mangkunegaran sebagai Mangkunegoro X. Curhatan Paundra ini membuat publik menduga ada persaingan yang semakin meruncing dan keras antara Paundra dan Bhre sebagai Mangkunegara X.

Publik saat ini sudah mengetahui adanya tiga sosok sebagai kandidat pengageng Pura Mangkunegaran yakni GPH Paundrakarna (putra  Mangkunegoro IX dengan istri Sukmawati Soekarnoputri, GPH Bhre Cakrahutomo (putra Mangkunegoro IX dengan GKP Prisca Marina) dan kandidat ketiga adalah cucu Mangkunegoro VIII yang juga cucu Pahlawan Nasional Moh Yamin, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin. Roy memang sering disebut sebagai jalan tengah bila persaingan Paundra dan Bhre semakin keras. Apalagi ada tradisi penerus Mangkunegara adalah cucu dari Mangkunegara sebelumnya.

Tunjung W Sutirta sejarawan dari UNS Solo dan Raden Surojo  Pengamat Budaya Jawa secara terpisah, Sabtu (23/10/2021) mengatakan cucu Mangkunegoro VIII yakni Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin bisa saja tampil sebagai jalan tengah. Apalagi dalam historis riwayat suksesi Pura Mangkunegaran sebagaimana terjadi pada saat Mangkunegoro I sebelum turun tahta sudah menunjuk cucunya untuk calon penerus tahta Pura Mangkunegaran.

Memang terkait dengan pergantian kepemimpinan KGPAA Mangkunegara IX masih menjadi teka-teki. Hal ini karena saat Paundrakarna lahir, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, GPH Sudjiwo Kusumo masih berstatus sebagai pangeran. Sementara itu, Bhre Cakrahutomo lahir dari istri berstatus permaisuri atau saat GPH Sudjiwo Kusumo telah menjadi penguasa Istana Pura Mangkunegaran. Peliknya terkait pengganti sosok pimpinan di Pura Mangkunegaran ini menyebabkan hasil akhir siapa yang bakal menjadi Penguasa Pura Mangkunegaran yang didirikan Pangeran Sambernyowo yang dibantu para prajurit setianya yang dikenal sebagai Punggawa Baku akan tergantung pada keputusan keluarga inti.

Keluarga inti di Pura Mangkunegaran atau para sesepuh yang berhak menentukan MN X diantaranya permaisuri Mangkunegara IX, Gusti Kanjeng Putri (GKP) Prisca Marina Yogi Supardi dan dua saudara Mangkunegara IX yakni Bendara Raden Ajeng (BRAj) Retno Satuti Rahadiyan Yamin dan BRAj Retno Rosati Hudiono Kadarisman.

“Tinggal tiga itu. Ibu Satuti sebagai saudara kandung tertua almarhum Mangkunegoro IX dan Ibu Rosati, adiknya, serta permaisuri. Mereka akan bermusyawarah, siapa kira-kira dari tiga kandidat adipati yakni Gusti Paundra, Gusti Bhre dan KRMH Roy Rajasa Yamin yang mendapat wahyu keprabon jadi penguasa Pura Mangkunegaran, " papar sumber di lingkaran dalam Istana Mangkunegaran namun enggan disebut jati dirinya itu.

Sementara Pegiat Sejarah dan Budaya Solo Raya, Surojo mengatakan jika dilihat dari silsilah pergantian Adipati Mangkunegaran, mulai Mangkunegoro II hingga Mangkunegoro IX selalu berubah sesuai dengan situasi. Suksesi di Pura Mangkunegaran tidak selalu dipegang atau menurun kepada anaknya. Artinya, beberapa keluarga keturunan Mangkunegaran memiliki kesempatan untuk menjadi penguasa atau orang nomor satu di Pura yang didirikan oleh Pangeran Sambernyowo atau KGPAA Mangkunegoro I.

"Dalam suksesi di Pura Mangkunegaran tidak mutlak harus putra mahkota dari Mangkunegara sebelumnya,” ungkap Surojo.

Surojo menilai Pura Mangkunegaran merupakan sebuah kerajaan catur sagotro dinasti Mataram Islam yang demokratis. Hal ini dilihat dari pola suksesi yang terjadi sejak Mangkunegara II hingga Mangkunegara IX. Pemilihan Pengageng Pura Mangkunegaran selalu menerapkan pola situasinal sehingga tidak bisa ditebak siapa penerus raja berikutnya. “Diawali dari Adipati Mangkunegoro II, MN II ini merupakan cucu Adipati Mangkunegoro I, jadi bukan anaknya langsung,” paparnya.

Kemudian Adipati Mangkunegoro III dan Adipati Mangkunegoro IV sama-sama cucu dari Raja Mangkunegoro II,” ujar Surojo. Perubahan pola terjadi di suksesi Adipati Mangkunegoro V, yang dijabat oleh anak dari Adipati Mangkunegoro IV. “Kemudian Adipati Mangkunegoro VI, yang menjabat adalah adik dari Adipati Mangkunegoro V, di sini beda lagi polanya,” jelasnya. Dan Adipati Mangkunegoro VII dan Adipati Mangkunegoro VIII sama-sama anak dari Adipati Mangkunegoro V.

Pengamat Budaya Khususnya Kerajaan Catur Sagotra, Surojo berpendapat jika penerus Penguasa Mangkunegaran bakal dipilih sesuai dengan kebutuhan jaman, bukan kebutuhan kelompok. “Ada beberapa kandidat sebagai penerus tahta Pura Mangkunegaran. Mereka adalah Gusti Paundra, Gusti Bhre, dan KRMH Roy,” pungkas Surojo.(Hwa)

Kredit

Bagikan