Hubbul Wathan Minal Iman Sudah Didiskusikan 500 Tahun Lalu

user
danar 21 Oktober 2021, 15:30 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Nahdlatul Ulama (NU) akrab dengan jargon hubbul wathan minal iman yang kembali dimunculkan KH Abdul Wahab Hasbullah dan diabadikan dalam mars Syubbanul Wathan.

"Hubbul wathan minal iman bukan diungkapkan pertama kali seorang misionaris Kristen bernama Butrus Bustani. Tapi sudah didiskusikan diantaranya oleh Imam Sakhawi lebih dari 500 tahun lalu," kata senator asal DIY, Dr H Hilmy Muhammad MA dalam Seminar Nasional Kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta melalui aplikasi Zoom, Selasa (19/10/2021).

Ditegaskan Gus Hilmy, pemikiran bahwa hubbul wathan minal iman disampaikan Butrus Bustani (1819 M) merupakan pemahaman sejarah yang keliru. Sementara lebih 500 tahun lalu, Imam Sakhawi (1438 M) sudah berdialog terkait jargon tersebut.

"Dan jargon itu memang bukan hadits, tapi kebenaran pengertian itu bisa dibuktikan melalui pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap tanah air," terang pengasuh Ponpes Al Munawwir Krapyak tersebut.

Selain hubbul wathan minal iman, NU juga memiliki jargon 'NKRI Harga Mati'. Keniscayaan dari kedua jargon itu menurut anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI tersebut, santri harus mengambil peran dengan sebaik-baiknya.

"Ketika mencintai negeri, maka kewajiban kita berupaya dan memberikan partisipasi semaksimal mungkin. Santri dengan demikian tidak cukup belajar agama, tetapi bagaimana berperan dan berupaya mengisi pos-pos yang ada di negara," ujarnya.

Gus Hilmy juga menandaskan Hari Santri memang baru ditetapkan pada 2015. Tapi sesungguhnya perjuangan untuk itu sudah dimulai sejak belasan tahun sebelumnya. Di antaranya oleh Alm Mohammad Fajrul Falaakh SH MA MSc, putra Prof KH Tolchah Mansoer dan kakak kandung Dra Hj Safira Machrusah MA Pakar Hukum Tata Negara dari UGM ini menjadi salah seorang yang mengkaji dan menggelorakan kembali peran Resolusi Jihad dalam perang melawan penjajah di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan 10 November.

"Sayangnya belum menikmati hasil perjuangannya, beliau sudah meninggal dunia," ungkpanya.

Selain Gus Hilmy, dalam kesempatan tersebut juga hadir secara virtual sebagai narasumber, Hj Safira Machrusah, yang juga Duta Besar Indonesia untuk Aljazair serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNU Yogyakarta Dr Drs Senawi MP. (Feb)

Kredit

Bagikan