Tradisi Titiran Kampung Batik Dibakar Jepang, Pemerintah Dihadiahi Lagu

user
Ary B Prass 19 Oktober 2021, 12:47 WIB
untitled

SEMARANG KRJOGJA.com - Warga Kampung Batik Kelurahan Rejomulyo  Semarang, Minggu (17/10/2021) memperingati Pembakaran Kampung Batik oleh Bala Tentara Jepang yang menduduki Semarang tahun 1945.

Saat itu, Rabu (17/10/1945) tentara penjajah Jepang membakar kampung Batik karena diketahui akan menjadi tempat persiapan penyerbuan kedudukan Jepang di sekitar Kota Lama dalam perang Kemerdekaan. Karena rencana keburu diketahui, Jepang melakukan pendahuluan dengan membakar rumah di Kampung Batik Wedusan menjelang Maghrib.

Akibat pembakaran ini ada sekitar 200 rumah yang hangus terbakar atau sekitar separuh wilayah Kampung Batik yang ludes dilalap api.

Peringatan digelar dengan mengadakan kirab air yang diambil dari sumur kebakaran yang ada di Kampung Batik Gedong. Konon dulu dari air sumur inilah api mampu dipadamkan.

Warga juga mengarak papan kayu pintu rumah milik warga yang pada saat itu berlubang ditembak senapan Jepang.

Wakil Walikota Semarang Ir Hj Hevearita Gunaryanti Rahayu MSos hadir membuka dan mencanangkan peringatan ini menjadi Tradisi Titiran Kampung Batik Semarang. Titir merupakan suara kentongan penanda adanya bahaya kebakaran.

"Ini merupakan peringatan sejarah perjuangan rakyat Semarang yang ada dalam rangkaian peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang. Dengan dikemas secara teatrikal maka akan memiliki daya tarik, apalagi ada nuansa tradisi kirab, tentu akan menjadi daya tarik wisata bagi Kampung Batik," ujar Mbak Ita, panggilan akrab Hevearita.

Pada kesempatan sama juga diberikan karya lagu perjuangan berjudul Langgam Pertempuran 5 Hari karya Adji Muska kepada  Pemerintah Kota Semarang melalui Wakil Walikota Semarang.

Warga juga menobatkan Wakil Walikota Semarang sebagai Mbok Batik Semarang.

" Penobatan ini merupakan apresiasi dari warga karena konsistensi dan perhatian yang luar biasa Bu Ita kepada warga Kampung Batik. Beberapa kegiatan warga, Bu Ita selalu hadir. Bahkan bila sudah membatik bersama warga sampai lupa waktu. Bu Ita bahkan sangat dekat dengan semua kalangan di sini," ujar Ign Luwiyanto, Ketua Komunitas Seni Kampoeng Djadoel Kampoeng Batik. (Cha)

Credits

Bagikan