Harga Gabah di DIY Naik , Namun Masih Ada yang di Bawah HPP

user
Ary B Prass 11 Oktober 2021, 15:07 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Harga produsen gabah di tingkat petani rata-rata mencapai Rp 4.278,43 atau naik 1,25 persen pada September 2021 dibanding dengan Agustus 2021 sebesar Rp 4.225,47 dan di tingkat penggilingan naik 1,21 persen dari Rp 4.296,23 menjadi Rp 4.348,04 /Kg. Selain itu, di jumpai observasi harga gabah dibawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebanyak 74,51 persen pada gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) dan Gabah Kering Panen (GKP).

" Jumlah observasi gabah sebanyak 51 transaksi yang terdiri dari GKG sebanyak 26 observasi atau 50,98 persen, GKP sebanyak 17 observasi atau 33,33 persen dan Gabah Luar Kualitas sebanyak 8 observasi atau 15,69 persen. Ditemukan transaksi penjualan harga gabah dibawah HPP yang terjadi pada kualitas GKG dengan selisih harga 13,44 persen dan kualitas GKP di tingkat petani dengan selisih harga 1,40 persen dan di tingkat penggilingan 1,31 persen," papar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sugeng Arianto di Yogyakarta, Senin (11/10/2021).

Sugeng menjelaskan harga gabah tertinggi di tingkat petani senilai Rp 5.000/Kg pada gabah Kualitas GKG dengan varietas Mentik Wangi terjadi di Kecamatan

Seyegan dan Sleman Kabupaten Sleman. Sebaliknya, harga gabah terendah di tingkat petani Rp 3.900/Kg pada gabah Luar Kualitas dengan varietas IR 64 terjadi di wilayah Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul.

" Hasil observasi gabah berdasarkan varietas yang dihasilkan dan dijual petani pada September 2021 Varietas IR 64 50,98 persen, Ciherang 27,45 persen, Mekongga 9,80 persen dan varietas lainnya sebanyak 11,77 persen," tandasnya.

Rata-rata Kadar Air (KA) pada GKG) sebesar 12,72 persen, GKP sebesar 21,11 persen dan gabah Luar kualitas 28,50 persen. Secara total rata-rata kadar air 17,99 persen pada September 2021. Rerata kadar hampa GKG pada September 2021 sebesar 6,97 persen, GKP 3,84 persen dan gabah luar kualitas 0,91 persen sehingga total mencapai 4,98 persen.

" Hasil pemantauan gabah yang merupakan komoditas strategi ini diharapkan sebagai sistem peringatan dini alias early warning system bagi instansi pemerintah terkait untuk menentukan langkah antisipatif dalam rangka pengamanan harga gabah," imbuh Sugeng. (Ira)

Credits

Bagikan