Peternak Ayam Petelur Desak Normalisasi Harga

user
danar 07 Oktober 2021, 19:30 WIB
untitled

KARANGANYAR, KRJOGJA.com - Peternam ayam petelur di Karanganyar mendesak pemerintah menormalisasi harga pakan dan telur di pasaran. Saat ini, mereka terhimpit tingginya biaya produksi serta harga telur yang merosot.

"Sekarang ini yang harus diperjuangkan adalah harga telurnya. Minimal mengacu Permendag. Kita peternak sudah megap-megap tenan," kata Sekretaris Pinsar Petelur Nasiona (PPN) Solo, Heru Santoso kepada wartawan usai menyerahkan bantuan pakan di Desa Sedayu Kecamatan Jumantono, Rabu (6/10/2021).

Dalam beberapa bulan terakhir, mereka mengalami kerugin tidak sedikit akibat anjlognya harga telur. Di level farm, tengkulak hanya berani menebus Rp13.000-Rp14.000 perkilo. Padahal usaha tersebut impas jika mencapai BEP Rp19.500 perkilo. Ia meminta operasi pasar komoditas pakan ayam oleh pemerintah tersebut perlu ditingkatkan lagi dengan penyetabilan harga telur.

“Secepatnya saja pemerintah dengan kebijakannya membantu peternak ayam petelur," katanya.

Problemnya kian pelik karena harga pakan juga melambung. Jagung mengalami kenaikan harga sampai Rp 6.800 dari normalnya Rp 4.500 perkilogram. Untungnya pemerintah mengeluarkan stok jagungnya dari gudang Bulog untuk peternak ayam dalam program cadangan stabilisasi harga pangan (CSHP). Peternak hanya perlu menebusnya Rp 4.500 perkilogram. Harapannya, harga pakan tersebut kondusif.

"Peternak Soloraya, Kendal dan Gunung Kidul serta sekitarnya melalui koperasi PPN dijatah 2 ribu ton jagung. Di Karanganyar kebagian jatah 100 ton di tahap ini. Akan ada tahap selanjutnya. Sasarannya ke peternak di Sedayu dan Ngunut Jumantono serta Mojogedang,” lanjut Heru.

Ia menyebut terdapat 500 lebih peternak ayam petelur di Karanganyar, Sragen, Boyolali dan sekitarnya.

Peternak ayam petelur asal Desa Ngunut Jumantono Nurtini mengaku harga pakan mahal tidak hanya jenis jagung. Namun juga konsentrat. Ia memiliki empat kandang dengan jumlah ayam ribuan ekor per kandang. Selama kondisi krisis, ia mengaku rugi sampai Rp5 juta perbulan perkandang.

“Karena produksi berkurang. Pakannya mahal. Harga telur jatuh,” katanya.

Ia tak terlalu pusing harga pakan mahal apabila harga telur di atas HPP.

“Harga jagung perkilo Rp6 ribu masih bisa ditoleransi apabila HPP yang Rp19 ribu sekian, bisa naik sedikit. Kalau sekarang enggak sampai Rp14 ribu telurnya, kita belum bisa impas,” katanya. (Lim)

Kredit

Bagikan