Okupansi Merangkat Naik, PHRI DIY Mengaku Masih Belum Membaik

user
danar 07 Oktober 2021, 07:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Kondisi bisnis perhotelan baik bintang maupun non bintang di DIY masih belum kunjung membaik memasuki awal Oktober 2021. Tingkat hunian atau okupansi perhotelan DIY secara umum bisa dikatakan memang mengalami kenaikan di kisaran 20 persen dari total 70 persen kamar yang dioperasionalkan saat ini. Sayangnya capaian tersebut tidak sebanding dengan tingginya beban operasional yang harus ditanggung, sehingga pelaku bisnis perhotelan DIY masih terpuruk dan membutuhkan keberpihakan pemerintah.

Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono menegaskan kondisi okupansi perhotelan di DIY belum kunjung membaik meskipun telah terjadi peningkatan okupansi beberapa waktu akhir-akhir ini. Rerata capaian tingkat hunian hotel baik bintang maupun non bintang di DIY jika diakumulasi hanya di kisaran 35 hingga 40 persen alias tidak mengalami kenaikan signifikan.

"Kondisi ini tetap kita syukuri, tetapi PHRI DIY belum baik-baik saja. Sebab beban operasional kita masih tinggi seperti biaya listrik, PBB dan sebagainya. Okupansi memang sudah mulai bergerak tetapi belum merata apalagi hanya tinggi di akhir pekan, ditambah belum bisa menutupi beban operasional yang tanggungannya sangat besar sekali supaya bisa bangkit," tandasnya kepada KRJOGJA.com di Yogyakarta, Rabu (6/10/2021).

Deddy menyatakan capaian akumulasi tingkat hunian hotel di DIY tersebut dari jumlah kamar yang dioperasikan yang mencapai 70 persen saat ini. Tidak bisa dipungkiri, okupansi perhotelan DIY memang mengalami kenaikan signifikan hanya pada akhir pekan setiap Jumat dan Sabtu selama tiga minggu ini. Namun kebaikan tersebut belum merata baik dari bintang maupun zonanya. Puncak okupansi hotel bintang 3 hingga 5 mencapai 80 sampai 90 persen di zona Tengah dan Utara, tingkat hunian hotel bintang 2 ke bawah sampai non bintang berkisar 20 sampai 40 persen pada akhir pekan lalu.

"Kenapa okupansi hotel non bintang pergerakannya tidak signifikan, karena banyak event-event atau MICE dari kementerian banyak di DIY dengan pilihan menginapnya di hotel bintang 3 sampai 5. Yang belum dan masih jadi PR adalah hotel bintang 2 ke bawah sampai non bintang, sebab segmen pasarnya adalah wisatawan menengah ke bawah. Jadi kenaikan okupansi yang ada di akhir pekan lalu bukan menandakan kami sudah baik-baik saja," imbuhnya.

General Manager Hotel Ruba Grha Yogyakarta ini mengungkapkan pihaknya masih mempunyai beban operasional yang besar dan ditanggung sebagai dampak pandemi Covid-19. Sehingga pemasukan yang ada saat ini belum bisa menutup karena belum imbang dengan beban operasional yang ada. Untuk itu, PHRI DIY meminta keberpihakan pemerintah untuk membantu memberikan keringanan atau potongan harga terhadap biaya-biaya operasional yang besar tersebut, seperti diskon tarif listrik, iuran BPJS, keringanan pembayaran PBB dan sebagainya.

"Kami mendesak pemerintah agar bisa segera membuka obyek wisata dengan protokol kesehatan maupun skrining yang ketat. Kita berharap okupansi hotel bintang sampai non bintang di DIY bisa diratakan," ujar Deddy.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sugeng Arianto menyampaikan pandemi Covid-19 telah memberikan pukulan bagi industri pariwisata di DIY yang terlihat dari angka Tingkat Penghunian Kamar (TPK) yang terpuruk sejak Maret 2020 lalu. TPK Hotel bintang di DIY mencapai 20,91 persen pada Agustus 2021 yang kenaikan 7,59 persen dibandingkan TPK bulan sebelumnya. TPK hotel non bintang di DIY mencapai 8,65 persen atau naik 2,26 persen dibandingkan TPK Bulan Juli 2021.

"TPK tertinggi pada Agustus 2021 tercatat pada hotel bintang lima yang mencapai 26,63 persen dan TPK terendah tercatat pada hotel bintang satu 9,20 persen. TPK hotel non bintang pada Agustus 2021 tertinggi mencapai angka 12,55 persen terjadi pada kelompok kamar >40 dan TPK terendah sebesar 7,66 persen terjadi pada kelompok kamar <10," tuturnya.

Sugeng menambahkan rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel bintang di DIY mencapai 1,53 hari selama Agustus 2021, terjadi penurunan 0,07 poin jika dibanding rata-rata lama menginap pada Juli 2021. Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel non bintang di DIY mencapai 1,18 hari selama Agustus 2021, terjadi penurunan 0,04 poin jika dibanding rata-rata lama menginap pada Juli 2021.(Ira)

Credits

Bagikan