Harga Pakan Meroket, Peternak Ayam Petelur Menjerit

user
danar 13 September 2021, 14:10 WIB
untitled

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Harga telur ayam yang secara nasional mengalami penurunan mebuat peternak tekor dan setiap hari nombok. Sementara harga telur yang saat ini hanya mencapai Rp 17 ribu per kilogram tidak sebanding dengan tingginya harga pakan. Jika kondisi terus berlanjut peternak terancam bangkrut.

Menurut Matoro, salah seorang peternak ayam petelur di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, lantaran harga pakan meningkat tiap hari tombok rata-rata Rp 2 juta. "Kami berharap pemerintah turun tangan dalam mengatasi persoalan ini agar peternak tidak terus merugi," katanya Senin (13/9/2021).

Penyebab sulitnya impor pakan masuk ke Indonesia yang diduga menjadi penyebab mahalnya harga pakan ayam petelur berdampak bagi para peternak. Situasi saat ini semakin sulit lantaran di tengah naiknya harga pakan itu, harga jual hasil telur tak bisa diharapkan.

Saat ini dirinya memiliki usaha ayam petelur dengan populasi 3.000 ekor dan setiap hari membutuhkan kurang lebih 360 kilogram pakan. Sementara hasil yang didapatkan yakni telur seberat 150 kilogram per hari. Jumlah ini tentu saja tidak cukup untuk menutup biaya produksi dan alhasil, setiap harinya dia harus tombok.

“Hasil yang diperoleh tidak bisa menutup untuk biaya operasional dan produksi," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan, Disperindag Gunungkidul, Yuniarti Ekoningsih mengatakan, harga telur ayam di tingkat pengecer saat ini Rp 20 ribu per kilogram. Kondisi harga pasar, memang sempat ada trend kenaikan harga telur beberapa waktu lalu. Namun hal itu terjadi hanya saat mulai masa pandemi Covid-19 saat pemerintah mulai membagikan bantuan pangan. Setelah itu, harga telur cenderung mengalami penurunan.

“Harganya memang lebih murah jika dibandingkan sebelum pandemi. Karenanya kini pihak pemerintah sedang mengusahakan menurunkan harga pakan guna menjaga kelangsungan usaha para peternak,” terangnya. (Bmp)

Kredit

Bagikan