Tegas Menolak, Isu Kenaikan Cukai Rokok Tahun Depan Bikin Buruh Gelisah Kehilangan Pekerjaan

user
Ary B Prass 17 Agustus 2021, 11:59 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Mencuat rencana pemerintah menaikan cukai rokok hasil tembakau sebesar 20 persen di tahun 2022. Berbagai komentar muncul, salah satunya dari Pimpinan Daerah Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (PD FSP RTMM-SPSI ) DIY yang tegas menyatakan penolakan rencana tersebut.

Waljid Budi Lestarianto, selaku pengurus PD FSP RTMM-SPSI DIY mengatakan kebijakan kenaikan cukai hasil tembakau atau cukai rokok merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan pendapatan negara. Dalam Buku II Nota Keuangan Beserta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2022, pemerintah menargetkan penerimaan cukai tahun depan sebesar Rp 203,92 triliun atau tumbuh 11 persen dari outlook tahun 2021.

“Jika benar, ini merupakan kabar duka bagi para pekerja/buruh anggota FSP RTMM khusus nya di sektor sigaret kretek tangan  (SKT) padat karya yang tersebar di kabupaten/kota DIY. Ada sekitar 5 ribu pekerja  yang ada di sektor tersebut,” ungkap Waljid dalam keterangan tertulis pada wartawan, Selasa (17/8/2021).

PD FSP RTMM-SPSI DIY meminta pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan ulang rencana kenaikan cukai hasil tembakau terebut. Kenaikan cukai hasil tembakau dirasa mengancam sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) yang sebagian besar adalah perempuan pelinting kretek dan merupakan tulang punggung keluarga.

“Mereka terancam kehilangan pekerjaan lantaran permintaan pasar terhadap produk SKT yang menurun seiring kenaikan cukai yang tinggi ditambah dengan berkurangnya daya saing terhadap rokok yang diproduksi mesin. Jika terjadi PHK, bagaimana dengan nasib mereka? Siapa yang akan mempekerjakan mereka kembali. Siapa yang akan menyekolahkan anak-anak mereka?,” urai Waljid.

Pandemi Covid yang belum juga usai begitu terasa pada para pekerja/buruh. Saat ini, ketika industri masih bisa tetap produksi dan para buruh masih bisa tetap bekerja, dikatakan sudah menjadi hal yang luar biasa.

“Jangan justru pemerintah membuat kegaduhan saat masa prihatin karena dampak Covid yang sampai dengan hari ini belum jelas penyelesaiannya. Dalam hal ini kami jelas menolak kenaikan cukai rokok tahun 2022,” pungkasnya. (Fxh)

Kredit

Bagikan