Pernikahan Dini DIY Jadi Sorotan, Perlu Perhatian Bersama

user
Ary B Prass 14 Juni 2021, 19:55 WIB
untitled

SLEMAN, KRJOGJA.com - Persoalan pernikahan dini saat ini masih menjadi perbincangan di masyarakat. Situasi itu masih kerap terjadi dengan berbagai faktor penyebab.

Pernikahan dini, di mana laki-laki dan perempuan belum siap secara jasmani dan rohani membentuk kerentanan. Itulah mengapa pemerintah memiliki kewajiban mengedukasi masyarakat untuk membuka cakrawala wawasan tentang hal tersebut.

Anggota DPRD DIY, Nurcholis Suharman dalam acara sosialisasi Pendewasaan Usia Pernikahan yang dilakukan di Desa Turgo Gede Pakem Sleman, Senin (14/6/2021) mengungkap sebenarnya sudah banyak pihak memahami terkait bahaya pernikahan usia dini. Berbagai informasi sudah hadir dengan teknologi yang sudah maju saat ini.

“Namun menjadi pertanyaan mengapa perkawinan usia dini masih banyak terjadi di Indonesia, bahkan dalam data yang ada di BKKBN perkawinan usia dini di Indonesia terhitung masih sangat tinggi yakni 46 persen untuk usia 15 hingga 19 tahun ,sedangkan untuk anak yang berusia dibawah 15 tahun sebanyak 5 persen. Bahkan, Indonesia masuk dalam rangking 37 dunia untuk hal ini,” ungkap Nurcholis.

Pemerintah menurut Nurcholis sebenarnya telah menerbitkan berbagai peraturan dan perundangan terkait hal tersebut. Salah satunya Undang Undang no 23 tahun 2002 yang menjelaskan detail terkait hal itu.

Banyak kasus pertnikahan usia dini terpaksa dilakukan karena berbagai faktor misalnya persoalan ekonomi, budaya bahkan pergaulan yang tidak sehat. Di sini ia meminta seluruh elemen masyarakat termasuk para orangtua untuk mengambil peran aktif mengantisipasi.

“Bahwa anak anak ialah seseorang yang berusia dibawah 18 tahun sehingga dalam kategori ini ada perlakuan khusus didalamnya. Kami jelas sangat serius berkomitmen menggandenh pemerintah untuk bersama mengedukasi untuk sebisa mungkin menghindari pernikahan dini,” tambah pria yang juga ketua DPD Ormas Bapera DIY ini.

Sementara, dr Oktavianus yang menjadi narasumber dalam acara tersebut menjelaskan saat masih berusia dini, struktur organ dalam atau reproduksi wanita masih sangat rapuh sehingga sangat beresiko jika melakukan pernikahan dan terjadi kehamilan. Salah satu yang kerap ia temui yakni munculnya kanker rahim pada perempuan.

“Ketika organ dipaksakan kerap terjadi penyakit kanker rahim yang akan sangat berbahaya untuk kehidupan wanita. Kita harus sadari betul saat ini bahwa kelangsungan generasi berikutnya juga bergantung kepada sehatnya generasi yang melahirkannya, karena  jika kurang sehat maka akan berdampak kepada bayi yang dikandungnya,” pungkas dia. (Fxh)

Kredit

Bagikan