10 Perempuan Tangguh Dapat Berkah Di Bulan Kartini

user
agus 27 April 2021, 22:05 WIB
untitled

KARANGANYAR, KRjogja.com - Sebanyak 10 perempuan pekerja kasar mendapat apresiasi dari Gerakan Aspirasi Muda Lawu (Gardal). Para perempuan itu gigih mencari nafkah meski pekerjaannya tidak mudah.

Mereka mengandalkan upah harian dari pekerjaan kuli bangunan, teknisi tambal ban hingga buruh serabutan. Di bulan Kartini, Gardal ingin berbagi dengan mereka.

“Kami memberikan paket sembako dan sekadar uang saku. Tidak banyak, tapi diharapkan menyemangati kaum ibu rumah tangga ini dan mengapresiasi usaha mereka dalam membantu perekonomian keluarga,” katanya kepada KR, Selasa (27/4).

Berbagai pekerjaan kasar yang umumnya dilakoni kaum pria, rela dikerjakan 10 wanita asal Kabupaten karanganyar ini. Satu diantaranya Sri Tukini, perempuan usia 69 tahun asal Desa Jati, Jaten, Karanganyar, yang menjadi buruh bangunan. Dari 10 perempuan penerimanya, Sri berusia paling tua.

“Enggak sekuat dulu angkat-angkat. Tapi masih bisa kerja ikut anak saya. Diupah Rp60 ribu-Rp65 ribu per hari. Kerjanya melayani tukang bangunan lain seperti membuatkan minuman sampai mengaduk semen,” kata Sri.

Ia bersikeras bekerja untuk mencukupi kebutuhan pribadinya. Sri enggan menggantungkan itu ke anak, menantu maupun cucunya. Pekerjaan inilah yang membuatnya bertahan dan membesarkan buah hatinya selama puluhan tahun. Namun saat ramadan, pekerjaan berat itu ditinggalkannya sejenak. Kini, ia memilih berdagang makanan ringan.

Sedangkan bagi Ngatmi (44) warga Wonolopo, Tasikmadu, bekerja serabutan dilakoninya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Ia ikut kemanapun suaminya pergi ke proyek bangunan. Di sana, ia juga melakukan hal selayaknya kuli pria seperti mengangkut batu, mengaduk pasir, menata bata dan sebagainya.

“Anak dua. Satu putus sekolah sejak SMP dan satu lagi mau masuk SMP. Anak sulung juga ikut jadi kuli bangunan,” tuturnya.

Jika saja modalnya cukup, pekerjaan melelahkan dan berisiko ini pasti ditinggalkannya. Meski semangatnya masih membara, namun tubuhnya tak sekuat dulu.

“Mau dagang enggak punya modal. Jadi kuli akhirnya. Ikut mandor. Gajian sepekan sekali langsung habis. Perhari diupah Rp60 ribu-Rp65 ribu,” katanya. (Lim)

Kredit

Bagikan