Dirjen Kebudayaan Lakukan Penyemprotan Perdana Minyak Atsiri

user
agus 09 April 2021, 17:33 WIB
untitled

MAGELANG, KRJogja.com - Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Hilmar Farid melakukan penyemprotan perdana minyak atsiri serai wangi di batuan Candi Borobudur Magelang, Kamis (8/4/2021). Dalam kesempatan ini pula Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati SS MA secara simbolis menyerahkan naskah paten dan pengalihan hak kekayaan intelektual dari inventor kepada negara, yang diterima Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI.

Dirjen Kebudayaan kepada wartawan diantaranya mengatakan minyak atsiri serai wangi dipergunakan untuk menghilangkan atau menangkal lumut dan organisme lainnya jamur, seperti lumut maupun lainnya yang selalu menjadi masalah laten di bangunan Candi Borobudur Magelang.

Dikatakan, penyemprotan menggunakan minyak atsiri tersebut diantaranya untuk pelestarian, melindungi bangunan candi dari lumut yang memang banyak tumbuh di bangunan Candi Borobudur. Dengan cairan ini, lanjutnya, berhasil dihilangkan lumut dan keraknya tersebut.

Menurut Dirjen Kebudayaan, ini merupakan salah satu inovasi penting dari BKB, yang selama beberapa tahun melakukan proses riset mengembangkan teknologi ini, dan sekarang ini sudah cukup mantap. Minyak ini sudah diuji di batu lepas, dan sekarang bisa diaplikasikan di batu Candi Borobudur.

Dibandingkan dengan penggunaan zat kimia, keunggulan minyak atsiri serai wangi ini merupakan organik. Dengan penggunaan bahan yang sifatnya organik tersebut jauh lebih aman, ramah lingkungan dan aromanya yang wangi. Sedang penggunaan zat kimia resiko terpapar pada macam-macam juga tinggi. "Jadi, keuntungan yang pasti itu," kata Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI yang didampingi Kepala BKB dan tim dari BKB maupun lainnya.

Dari segi harga, juga sangat hemat. Serai wangi tumbuhnya di tengah masyarakat. Kalau memang harus mengeluarkan biaya, yang merasakan juga masyarakat. Ini termasuk merupakan investasi yang pas. Dengan menanam serai wangi ini masyarakat secara tidak langsung dapat menghasilkan minyak atsiri, dan pengolahannya pun dilakukan masyarakat. "Ini saya memandangnya sebagai ekosistem perlindungan cagar budaya yang sangat efektif," kata Dirjen Kebudayaan.

Indonesia memiliki banyak candi, yang juga memiliki problem serupa di Candi Borobudur, dan tidak menutup kemungkinan akan memerlukan teknologi ini juga. Tim dari BKB juga sudah memproses untuk mendapatkan Hak Paten, serta demi bangsa dan negara mereka menyerahkan haknya kepada negara untuk mengelolanya. Teknologi ini nantinya juga akan dipergunakan langsung yang berada di bawah Kemendikbud. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan bagi situs-situs yang berada di bawah penguasaan pemerintah daerah untuk menggunakan hal ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan hasil tim BKB ini nantinya juga akan menjadi inovasi yang dapat diekspor. Dari Borobudur lahir begitu banyak inovasi, dari lokal untuk internasional.

Pamong Budaya Ahli Madya BKB Nahar Cahyandaru SSi MA kepada wartawan membenarkan dahulu menggunakan bahan kimia untuk membersihkan lumut dan jamur. Dengan perkembangan teknologi, diperoleh teguran dari UNESCO bahwa penggunaan bahan seperti itu harus dihentikan karena tidak ramah lingkungan dan dikhawatirkan akan berbahaya untuk jangka panjang, mengingat sifatnya agak asam.

Sudah beberapa tahun dihentikan penggunaan zat kimia, dan proses pembersihannya di masa peralihan antara penggunaan bahan kimia dengan sekarang ini dilakukan secara manual. Sekarang pembersihannya menggunakan minyak atsiri serai wangi ini. Setelah disemprot dengan minyak atsiri ini, kemudian bagian yang disemprot ditutup menggunakan lembaran plastik sekitar 2 hari, sebelum dilakukan proses pembersihan. (Tha)

Credits

Bagikan