Asmindo Gandeng BI Gulirkan Pelatihan INE 2021

user
tomi 07 April 2021, 19:11 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) menggelar Pelatihan Indonesia New Exporter (INE) 2021 bagi sektor furniture dan kerajinan DIY di Hotel Cokro Umbulharjo Yogyakarta mulai Selasa (6/4) hingga Sabtu (10/4).

Pelatihan INE 2021 tersebut bertujuan menumbuhkan perusahaan-perusahaan baru eksportir furniture dan kerajinan di tanah air yang kompeten dan bermutu dengan dimentori pakar-pakar di bidangnya serta telah berpengalaman sukses melakukan ekspor di banyak negara maju di dunia.

Ketua Lembaga Pelatihan Kerja Asmindo (LPKA) Sapto Daryono mengatakan pihaknya membekali calon-calon eksportir furniture dan kerajinan dari nol sampai berhasil menjadi eksportir dalam pelatihan INE 2021 mulai dari produk, pengolah produk agar diterima pasar, manajemen, diikutkan pameran dari cara mendisplay produk maupun cara bertemu dengan customer atau buyer hingga pemasaran. Sehingga program pelatihan ini betul-betul memberikan pembekalan dari hulu ke hilir guna melahirkan eksportir baru di sektor furniture dan kerajinan, salah satunya dari DIY.

"Kami ingin meningkatkan ekspor furniture dan kerajinan yang tentunya bisa berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan negara maupun daerah dengan adanya pelatihan INE 2021. Kemunculan eksportir-eksportir baru itu jelas akan menambah pendapatan daerah setempat terlebih di masa pandemi Covid-19," katanya di Yogyakarta, Rabu (7/4).

Sapto mengungkapkan ekspor furniture dan kerajinan di DIY justru tumbuh atau meningkat sekitar 15 persen selama masa pandemi ini. Peningkatan ekspor produk furniture dan kerajinan DIY ini utamanya dari negara Eropa yang menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) sehingga antusiasme membeli tinggi. Selain itu, perusahaan furniture dan kerajinan di DIY pun sudah banyak yang berskala ekspor saat ini, prosentasenya setidaknya sudah mencapai 40 persen. Sedangkan yang belum berskala ekspor karena merupakan pelaku usaha yang masih berkonsolidasi.

"Jadi perusahaan eksportir furniture dan kerajinan lama kami minta lebih meningkatkan ekspornya lagi, sementara yang belum kami latih dan kawal hingga benar-benar bisa menjadi eksportir baru," ujarnya.

Menurut Sapto, kendala yang dihadapi pelaku usaha furniture dan kerajinan yang belum mampu berskala ekspor antara lain permodalan, pemasaran dan kenaikan harga bahan baku. Bahkan, pemasaran produk furniture dan kerajinan tidak bisa dilakukan secara online di tengah pandemi ini tetapi harus langsung melalui pameran offline karena buyer tidak bisa hanya melihat dalam foto atau video produk.

"Ekspor produk furniture dan kerajinan di DIY terus bertumbuh di tengah pandemi, bahkan kedua belah pihak antara buyer dan seller atau produsen ingin segera bertemu langsung. Kami berupaya menggenjot dan memperluas penjualan produk semaksimal mungkin dengan berbagai program, termasuk menggelar pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) sepert pelatihan INE 2021 yang digelar Asmindo bekerjasama dengan BI DIY ini supaya mencetak eksportir baru" imbuh Ketua Asmindo DIY Timbul Raharjo.(Ira)

Credits

Bagikan