Cuaca Ekstrem, Masyarakat Diminta Waspadai Kerawanan Bencana Alam

user
danar 06 April 2021, 22:50 WIB
untitled

SUKOHARJO, KRJOGJA.com - Pemkab Sukoharjo meminta pada masyarakat mewaspadai terhadap segala kerawanan bencana alam yang mungkin terjadi. Sebab perubahan cuaca ekstrem sering terjadi dan sudah ada peringatan dini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Korban bencana alam dipastikan akan mendapat jaminan penanganan dari pemerintah termasuk penyediaan anggaran sendiri dari daerah oleh Pemkab Sukoharjo.

Wakil Bupati Sukoharjo Agus Santosa, Selasa (6/4/2021) mengatakan, setiap orang di Indonesia termasuk masyarakat di wilayah Kabupaten Sukoharjo tetap harus mewaspadai setiap kerawanan bencana alam akibat pengaruh perubahan cuaca ekstrem. Hal itu penting mengingat sudah ada peringatan dini dari BMKG terkait kerawanan terjadinya bencana alam berupa peningkatan curah hujan dan angin kencang.

Agus mencontohkan, beberapa daerah baru saja dilanda bencana alam hingga menimbulkan korban jiwa dan harta benda. Bencana alam tersebut seperti banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang. Mengaca dari kejadian tersebut, Agus meminta pada masyarakat di Sukoharjo untuk waspada.

"Dibeberapa daerah dikejutkan dengan kejadian banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang. Di Sukoharjo sendiri juga rawan karena dilintasi aliran Sungai Bengawan Solo rawan menyebabkan banjir. Selain itu di wilayah perbukitan di Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu juga rawan banjir bandang dan tanah longsor apabila terus diguyur hujan. Kami minta masyarakat tetap waspada terhadap semua kerawanan bencana alam akibat cuaca ekstrem," ujarnya.

Khusus di wilayah Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu, Agus mengatakan, karakteristik alam disana perlu pengawasan ekstra ketat. Sebab bencana alam sering muncul seperti tanah longsor dan angin kencang. Bahkan banjir bandang juga bisa terjadi apabila kondisi diatas bukit sudah tidak ada lagi pohon besar sebagai penahan.

"Pohon besar diatas bukit jangan ditebangi sembarangan. Perlu peremajaan dengan program penghijauan agar warga yang tinggal dibawah bukit tidak menjadi korban banjir bandang dan tanah longsor," lanjutnya.

Pemkab Sukoharjo terkait kewaspadaan bencana alam sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Dijajaran internal pemerintahan telah dilibatkan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, PMI, dan SAR.

"Kejadian bencana alam akan langsung mendapat penanganan dari pemerintah. Pemkab Sukoharjo juga sudah menyediakan anggaran untuk penanganan bencana alam. Anggaran itu digunakan tidak hanya untuk korban banjir dan tanah longsor saat musim hujan saja, tapi juga bantuan pada warga bencana alam kekeringan saat musim kemarau yang mengakibatkan kekurangan air bersih," lanjutnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, mengatakan puncak musim hujan masih terjadi sepanjang April ini. Curah hujan masih tinggi selama satu bulan kedepan. Cuaca ekstrem juga muncul dari angin kencang dan petir sehingga rawan muncul bencana alam. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.

BPBD Sukoharjo sudah menerima informasi resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait perkembangan kondisi cuaca ekstrem sekarang. Sebab tidak hanya puncak hujan dimana terjadi peningkatan curah hujan saja, namun juga adanya angin kencang dan petir.

"Hingga akhir April masih puncak musim hujan. Cuaca ekstrem curah hujan tinggi disertai angin kencang dan petir. Sedangkan musim kemarau diprediksi awal Mei. Itu sesuai informasi resmi yang diterima BPBD Sukoharjo dari BMKG," ujarnya.

Sri Maryanto menjelaskan, cuaca ekstrem hujan deras disertai angin kencang dan petir membuat BPBD Sukoharjo memperbanyak informasi ke warga. Khusus untuk petir sangat membahayakan dan mematikan.

"Kami minta warga khususnya kepada petani tidak memaksakan diri berada di ruang terbuka atau area sawah saat hujan deras disertai angin kencang dan petir untuk menghindari kejadian tersambar petir," lanjutnya.

Catatan BPBD Sukoharjo dijelaskan Sri Maryanto pernah menerima laporan dan melakukan penanganan kejadian warga khususnya petani tersambar petir saat berada di area sawah. Akibatnya petani tersebut meninggal dunia setelah tersambar petir beberapa tahun lalu.(Mam)

Credits

Bagikan