Konsep 'River View' Jadi Pedoman, Sungai Harus Tetap Terurus

user
danar 28 Februari 2021, 17:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Keberadaan tiga sungai besar yakni Gajah Wong, Code dan Winongo menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi 'landmark' Kota Yogya. Penataan yang selama ini menyasar bantaran sungai dinilai sudah cukup bagus, tapi masih menyisakan berbagai masukan agar kondisi sungai tetap terurus.

Ketua Pemerti Code Totok Pratopo mengungkapkan, pihaknya sudah kerap memberikan masukan terkait proses penataan wilayah. "Terutama di kawasan Kali Code yang menjadi pengamatan kami. Skema penataan yang sudah dilakukan cukup bagus. Bahkan mewakili unsur keistimewaan DIY dari sisi arsitektur maupun warna atau cat. Tapi tidak ada jalan atau akses untuk turun ke sungai di beberapa wilayah," urainya usai menggelar susur sungai, Sabtu (27/2/2021).

Susur sungai di sepanjang Kali Code rutin digelar komunitas Pemerti Code lantaran menjadi paket wisata andalan sekaligus ajang Sekolah Sungai bagi mahasiswa. Kawasan bantaran yang terbangun jalan inspeksi untuk akses warga dan talut sebagai pengaman, semakin memudahkan aktivitas masyarakat. Harapannya perkampungan bantaran sungai semakin tertata dan terbebas dari kesan kumuh.

Meski demikian, menurut Totok, di kawasan tertentu masih perlu ada pembenahan. Terutama bagi yang tidak terfasilitasi akses untuk menuju sungai maupun ketinggian pagar yang melebihi ukuran manusia. "Penataan bagus tapi sungai bisa menjadi tidak terurus. Bagaimana warga mau reresik sungai jika tidak ada akses ke sungai. Padahal sampah bertumpuk, orang membuat keramba permanen juga tidak ada yang mengingatkan," urainya.

Di sisi lain, seringnya penutupan TPA Piyungan kerap menjadikan sungai sebagai korban. Hal ini karena sampah menumpuk di permukiman serta petugas sampah tidak bisa menyalurkan ke TPS atau depo. Oleh karena itu dirinya berharap setiap kampung terutama Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang belum telanjur masuk penataan agar selalu mengingatkan perencanaan pagar di bantaran sungai.

Konsep pembangunan 'river view' seperti yang dicanangkan komunitas dan perguruan tinggi seharusnya dapat dijadikan pedoman. Selain harus tersedia akses menuju sungai, ketinggian talut atau pagar seyogianya tidak melebihi ketinggian manusia atau batas maksimal satu meter. Hal ini agar perkampungan yang ditinggali menghadap ke sungai untuk menikmati sungai sebagai ruang terbuka yang indah. "Meski nanti ada akses menuju sungai namun harus tetap ada yang menggerakkan, mendorong masyarakat serta menginisiasi kelestarian sungai," imbuh Totok.

Ketinggian pagar yang ditujukan untuk menjaga keamanan dari banjir lahar dingin, tambahnya, sebenarnya juga belum sepenuhnya menjamin karena dimensi sungai tidak berubah. Berkaca dari banjir lahar dingin yang menerjang Code pada tahun 2011 lalu, material yang sampai di Kota Yogya hanya sekian persen dari muntahan erupsi Merapi. Justru ketika ada potensi yang sama dan ketinggiannya mencapai talut namun tidak diimbangi kekuatan pagar, dapat membahayakan permukiman. Idealnya, permukiman mundur sesuai pengalaman banjir lahar dingin tahun 2011 lalu.(Dhi)

Credits

Bagikan