Kangen Wisata Saat Pandemi, Tur Virtual Jadi Solusi

user
agus 27 Februari 2021, 17:11 WIB
untitled

KETERBATASAN menumbuhkan ide-ide baru dan inovasi kreatif untuk tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19. Sektor pariwisata betul-betul terhantam akibat kemunculan virus corona baru. Pembatasan wilayah di berbagai tempat dan batas-batas negara ditutup untuk menekan penyebaran penyebab Covid-19.

Orang-orang tak bisa leluasa berpergian. Tempat wisata yang biasa dijejali oleh turis mancanegara maupun domestik kosong melompong. Rencana liburan yang sudah dipersiapkan untuk tahun ini kandas. Agen-agen wisata daring kewalahan untuk melayani permintaan pengembalian dana karena penerbangan terganggu akibat pandemi.

Perlahan, orang-orang mulai mencari alternatif wisata yang aman. Senyampang dengan itu, tempat-tempat wisata di penjuru dunia mulai memperkenalkan tur virtual. Masyarakat bisa mengintip tempat wisata hingga museum melalui gawai sendiri. Jalan-jalan bisa dilakukan dari mana saja, yang penting koneksi internet lancar. Tur virtual bagaikan oase di tengah gurun, menyejukkan dahaga untuk berpetualang.

Indonesia juga tidak ketinggalan merespons tren ini. Semua pihak aktif membuat inovasi. Pengelola tempat wisata mencari cara agar mereka tidak terlupakan meski sudah beberapa bulan tidak disambangi.

Candi Borobudur contohnya. Ribuan turis Jepang baru saja "mampir" ke Candi Borobudur lewat tur virtual yang digelar PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero) dan Balai Konservasi Borobudur bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo.

Mereka menyaksikan keindahan candi yang megah melalui akun media sosial Instagram KBRI Tokyo. Meski tak datang langsung, wisatawan bisa menuntaskan rasa penasaran berkat informasi yang disediakan oleh pemandu wisata yang interaktif.

Pulau Bali yang masyhur juga memberikan tur wisata virtual untuk turis asal Negeri Sakura selama pandemi. Setiap akhir pekan, Desa Pejeng Kangin, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar memperlihatkan aktivitas warga di pedesaan untuk turis Jepang.

Bersama pemandu wisata berbahasa Jepang, turis diajak jalan-jalan dari rumah warga, melintasi hamparan sawah, lalu melihat aktivitas para penenun. Promosi virtual ini membuahkan hasil untuk perekonomian setempat. Mulai ada turis yang memesan kain tenun dari Desa Pejeng Kangin.

Tur virtual memang tak bisa menggantikan jalan-jalan betulan. Tapi selagi menunggu kondisi membaik, inovasi ini berguna sebagai promosi agar pariwisata Indonesia bisa lekas pulih ketika orang bebas bepergian.

Penyelenggara tur virtual bukan cuma mengandalkan pengelola tempat wisata yang bersangkutan. Wisata Kreatif Jakarta (WKJ), misalnya, rutin memandu pelancong dalam perjalanan bertema menarik. Jalan-jalan ke tempat kuliner, mengunjungi rumah ibadah hingga wisata makam telah mereka selenggarakan.

Agenda jalan-jalan reguler kini terhenti total. Tapi sebagai gantinya, WKJ bisa membuat tur dengan rute yang takkan bisa dijelajahi hanya dengan berjalan kaki seharian.

Peserta tur kini berkumpul di ruang rapat virtual. Mereka menikmati suasana tempat wisata lewat video dan foto yang disediakan Google Map dan Google Street View sembari mendengarkan penjelasan pemandu yang menuturkan serba-serbi informasi.

Tujuan wisatanya semakin bervariasi. Dulu, peserta harus menyempatkan waktu setidaknya beberapa jam jalan kaki menjelajahi Little India di Pasar Baru, atau kuliner Timur Tengah di Raden Saleh, Cikini.

Bagai pintu ajaib di komik Doraemon, pelancong bisa mengeksplorasi Nepal, Gunung Everest, San Fransisco bahkan sampai ke antariksa dalam waktu singkat.

"Itulah keunggulan dari tur virtual, rutenya bisa ke mana saja," kata pendiri Wisata Kreatif Jakarta Ira Lathief, sebagaimana dilansir Antara, beberapa waktu lalu.

Jumlah peminat tur virtual sepanjang pandemi bergerak naik turun, seiring "gas dan rem" dalam menghadapi bencana. Ketika pembatasan wilayah melonggar, masyarakat mulai berani bepergian ke luar kota. Peserta wisata virtual jadi menurun. (Ogi)

Credits

Bagikan