Emosi Sesaat Akibat Kecanduan Sinetron Berbahaya? Ini Kata Psikolog UGM

user
agus 11 Februari 2021, 22:45 WIB
untitled

YOGYA, KRJogja.com - Sinetron masih menjadi program unggulan menarik perhatian pemirsa televisi. Jalan cerita di setiap episodenya yang dikemas dengan 'ending' penasaran menempatkan program sinetron mempunyai rating tinggi disetiap stasiun televisi.

Kesuksesan sinetron tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya yaitu faktor kedekatan emosi dengan penggemar. Emosi yang terbangun khususnya dengan tokoh antagonis merupakan hal yang biasa terjadi ketika sebuah sinetron tayang. Tidak jarang para tokoh antagonis terbawa imbas peran yang dibawakan hingga di kehidupan nyata. Mulai dari komentar jahat di media sosial hingga ketika bertemu secara langsung.

"Kita harus menyadarkan para penggemar sinetron tersebut, agar jangan sampai kemarahan yang melibatkan emosi sesaat karena sebuah sinetron dan malah dialihkan kepada anak, suami, atau lingkungan sekitar akibat merasa menjadi bagian dari sinetron tersebut”, ujar Psikolog Universitas Gadjah Mada, Prof. Drs. Koentjoro. MBSc. Ph.D. saat dihubungi oleh KR, Kamis (11/2).

Pro kontra hadirnya sinetron ini menjadi momok tersendiri bagi beberapa pihak. Para pengiklan memanfaatkan ketenaran sinetron tersebut untuk menempatkan produk mereka sebagai iklan. Di Indonesia sendiri, tidak jarang penonton melihat penempatan iklan yang terlihat memaksakan dan terlebih lagi harus menunggu beberapa saat sampai iklan dalam sinetron berakhir.

Emosi Sesaat Akibat Kecanduan Sinetron Berbahaya? Ini Kata Psikolog UGM

Prof. Drs. Koentjoro. MBSc. Ph.D. Psikolog UGM (Sumber: Dok. Pribadi)

Menurut Prof. Koentjoro, hal ini disebabkan oleh permintaan pasar yang tinggi sehingga nantinya apapun yang pemeran tersebut gunakan, akan mempengaruhi psikologis dari penonton dan secara tidak langsung, mereka akan menggunakan produk tersebut agar terlihat "sama" dengan pemeran sinetron tersebut.

Berbanding terbalik dengan beberapa negara yang menempatkan produk iklannya secara "apik". Salah satu negara tersebut adalah Korea Selatan yang saat ini dramanya banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia, terutama kaum millenial dan generasi Z. Penempatan produk iklan yang dilakukan oleh banyak rumah produksi disana menggunakan cara serapi mungkin agar tidak terlalu terlihat bahwa sebenarnya produk tersebut merupakan iklan.

"Kesuksesan sebuah sinetron di Indonesia dapat dilihat dari banyaknya iklan yang muncul di setiap episodenya. Semakin banyak iklan yang muncul, maka semakin sukses pula sebuah sinetron tersebut", jelas Prof. Koentjoro. (Sabila)

Kredit

Bagikan