Sinergi Kunci Pulihkan Ekonomi DIY, Kemampuan Adaptasi-Inovasi Dikedepankan

user
tomi 23 Desember 2020, 07:42 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Pertumbuhan ekonomi di DIY pada 2021 mendatang lebih ditekankan pada upaya peningkatan dengan menjaga asumsi-asumsi yang tidak mengarah bertambahnya jumlah kasus positif Covid-19. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di DIY tersebut, diperlukan mobilitas yang mengedepankan kemampuan beradaptasi dan peningkatan inovasi maupun kreativitas. Tidak kalah pentingnya dukungan dari Pemda sangat diperlukan sehingga optimisme perekonomian DIY tetap tumbuh dengan kunci sinergi berbagai pihak.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan mengatakan kunci transformasi ekonomi DIY pasca pandemi Covid-19 yaitu optimalisasi Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) sebagai hub transformasi pariwisata berbasis digital dan mendorong sektor potensial DIY yang memiliki nilai tambah yang tinggi.

"Optimalisasi BIY sebagai hubungan utama pariwisata maupun ekspor impor dari Jawa Tengah dan Jawa Bagian Selatan. Selanjutnya transformasi pariwisata dengan digitalisasi serta peningkatan kualitas pariwisata DIY, semisal MICE, event dan festival. Kemudian mendorong sektor potensial yang bernilai tambah tinggi dengan mengembangkan industri kreatif sebagai new source of growth

," ujar Hilman dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Pemulihan Ekonomi DIY 2021 di Tengah Pandemi Covid-19 di Hotel Horison Ultima Riss Gowongan Yogyakarta, Selasa (22/12).

FGD menghadirkan narasumber lainnya yaitu Ketua Apindo DIY Buntoro, Dosen FEB UGM Amirullah Setya Hardi dan Penasihat Kadin DIY Robby Kusumaharta. FGD diselenggarakan oleh SKH Kedaulatan Rakyat (KR) bekerjasama dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dimoderatori Wapimred SKH KR Ronny Sugiantoro. Hadir dalam FGD Direktur Umum PT BP KR Yuriya Nugroho Samawi didampingi Pimpinan Redaksi SKH KR Octo Lampito dan jajarannya yang tayangan ulangnya dapat disaksikan di channel Youtube Kedaulatan Rakyat TV.

"Pandemi Covid-19 harus disikapi dengan positif, karena ini justru merupakan sebuah teguran bagi kita semua karena kita lalai memikirkan struktur ekonomi di DIY. Selain itu, adalah bagaimana kita membangun ekosistem yang bisa memberikan nilai tambah sebuah produk ada di DIY," ujar Ketua Apindo DIY Buntoro.

Buntoro menyampaikan ekonomi DIY sangat tergantung pada pariwisata dan pendidikan selama ini sehingga begitu terkena pandemi langsung terpukul. Untuk itu, diperlukan optimalisasi sektor-sektor potensial lainnya di DIY terutama pengembangan hingga pasar ekspor. Sehingga perlu adanya perubahan struktur ekonomi di DIY yang lebih baik lagi.

"Jangan kita merasa sedih lalu terpuruk karena pandemi ini, tetapi ini merupakan pelajaran yang harus diambil positifnya. Kita bisa bangkit lagi dengan melakukan inovasi dan bersinergi dengan semua pihak," imbuhnya.

Sementara itu Dosen FEB UGM Amirullah Setya Hardi mengatakan, dalam kurun waktu Maret hingga Desember, pergerakan sektoral mengalami dinamika yang penting. "Saat ini secara share, kontribusi terbesar berasal dari sektor industri dan pertanian. Meski kena krisis, kita masih oke. Kontributor terbesar dalam perekonomian DIY," kata Amrullah.

Ada beberapa hal yang mendukung perekonomian DIY akan terus melaju. Selain keberadaan BIY juga rencana pembangunan jalan tol yang melintas di wilayah DIY. "Proyek pembangunan tol juga memberikan kontribusi meski tidak signifikan. Kalo bandara kan areanya jelas kalo jaringan jalankan memanjang," tandas Amirullah.

Amirullah menyatakan, dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini ada beberapa hal yang menjadi angin segar. Misalnya keberadaan vaksin Covid-19 sehingga sosialisasi terkait hal tersebut juga perlu digalakkan.

Menurut Amirullah, dengan menciptakan tatanan ekonomi baru hal ini bisa memberikan optimisme dalam dunia perekonomian. Amirullah mengungkapkan, perekonomian di masa pandemi ini memang punya potensi dan hambatan.

"Dari sisi nasional ekonomi bergerak. Kembali meningkatnya mobilitas. Hanya saja, pada akhirnya masalah mobilitas tinggi diikuti dengan angka positifnya meningkat. Waras atau wareg masih menjadi pilihan," ungkap Amrullah.

Dalam kegiatan FGD kali ini Ketua Dewan Penasehat Kadin DIY Robby Kusumaharta menambahkan, menghadapi 2021 dunia bisnis memiliki sejumlah tantangan. Robby menuturkan, tantangan bisnis tahun 2021, faktor speed atau kecepatan itu penting. "Siapa yg cepat akan dapat peluang. Selain itu faktor SDM yang berkompeten juga penting," beber Robby.

Menurut Robby, saat ini ekonomi global juga tidak stabil sehingga jangan bersandar pada metode ekonomi yang selalu berubah. Untuk bertahan, masyarakat juga bisa melihat sumber dana dan risiko dalam mengelola risk dan reward keuangan. "Dan yang tak kalah penting, persaingan bisnis tahun depan makin ketat. Kolaborasi harus dilakukan dan kepemilikan data untuk menguasai market," urai Robby.(Ira/Aha)

Credits

Bagikan