Artda 1.0 Diluncurkan, Augmented Reality Tembang Dolanan Anak

user
agus 22 Desember 2020, 14:45 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Augmented Reality Tembang Dolanan Anak (ARTDA) merupakan aplikasi yang memberikan pengalaman baru belajar secara interaktif mengenai tembang dolanan anak. Aplikasi ini digabung dengan buku yang menyajikan keterangan tembang dolanan anak secara keatif dan imajinatif, sekaligus memuat marker yang dapat dipindai oleh kamera gawai yang sudah terpasang aplikasi ARTDA. Selanjutnya aplikasi ini bisa didownload secara gratis di Google Playstore.

"Tembang dolanan merupakan salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran Sariswara yang diciptakan oleh Ki Hadjar Dewantara. Menggabungkan tiga pelajaran kesenian, bahasa indah (sastra), lagu/tembang, dan cerita. Gabungan ketiga pelajaran ini diyakini Ki Hadjar Dewantara mampu melandasi watak anak suka akan keindahan dan kehalusan sebagaimana watak dari sebuah kesenian," kata Cak Lis, Pimpinan Laboratorium Sariswara Tamansiswa kepada krjogja.com, Selasa (22/12/2020).

Dijelaskan Cak Lis, bekerjasama dengan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI, melalui Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) tahun 2020, Laboratorium Sariswara didukung Tim teknis Arutala meluncurkan ARTDA 1.0, Senin.(21/12/2020). Peluncuran ini menggunakan metode daring, dengan mengundang segenap pemangku dan stakeholder kepentingan pendidikan baik regional, nasional, bahkan beberapa tamu berasal dari luar negeri. Diantaranya Dr JC Wang dari Northern Illinois University USA, Dr Gillian Irwin dari DC Davis, California USA dan Dr M Arif Rokhman – Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London.

Acara ini diawali dengan penjelasan tentang teknologi Augmented Reality (AR) dari Tim Arutala, dilanjutkan penjelasan Metode Sariswara berikut kaitannya dengan teknologi AR dari Lab Sariswara oleh Cak Lis. Sambutan pengantar dari Ki Priyo Dwiarso sebagai sesepuh Perguruan Tamansiswa. Ki Priyo Dwiarso menyampaikan perlunya Metode Sariswara dijadikan mata pelajaran seni yang bisa diimplementasikan di seluruh nusantara dengan menyesuaikan kearifan lokal masing-masing daerah. "Utamanya permainan tradisional anak daerah yang memakai lagu/tembang/ seni tutur," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan RI yang diwakili oleh Pustanto, Kepala Galeri Nasional, mengungkapkan, Sariswara harus dilestarikan dan dikembangkan sebagai gagasan Ki Hadjar Dewantara untuk melandasi budi pekerti luhur anak yang sangat khas Indonesia. Selain itu, pihak Ditjen Kebudayaan juga menyampaikan terima kasihnya karena Laboratorium Sariswara telah mampu membuat karya yang bisa menyerap kemajuan zaman tanpa kehilangan ciri budaya bangsa.

Acara ditutup dengan penyerahan secara simbolik satu paket buku tembang dolanan anak ARTDA kepada 10 komunitas pendidikan anak di Yogyakarta, mulai dari Sanggar budaya, komunitas homeschooler, PKK kampung, Sekolah Sanggar, Cabang Tamansiswa, PGSD FKIP-UST Yogyakarta, juga dari perwakilan keluarga.

Selanjutnya seluruh hadirin sejumlah 100 juga akan mendapatkan 1 paket yang berisi 10 buku ARTDA ini. "Harapan besarnya kehadiran ARTDA, di masa pandemi ini mampu menjadi media baru untuk membiasakan lagi anak-anak di ruang keluarga dan ruang kampung-kampung dengan bermain tembang dolanan anak," ujar Cak Lis. (Jay).

Kredit

Bagikan