PSSI DIY Siapkan Program Saat Pandemi, Bangun Kembali Prestasi Sepakbola

user
ivan 14 Oktober 2020, 22:09 WIB

YOGYA, KRJOGJA.com - Pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia, termasuk Indonesia saat ini, sangat mempengaruhi pelaksanaan kegiatan-kegiatan olahraga. Tak terkecuali, sepakbola yang sejumlah kegiatannya, termasuk kompetisi tingkat nasional harus terhenti meski menjadi olahraga paling favorit di negeri ini.

Kompetisi profesional seperti Liga 1 dan Liga 2 yang sempat berlangsung beberapa pertandingan, akhirnya harus dihentikan dan belum didapat kepastian kapan akan digulirkan lagi. Tak hanya kegiatan sepakbola profesional, sejumlah agenda sepakbola amatir di daerah, juga harus terhenti dan bahkan batal digulirkan akibat pandemi ini.

Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DIY, Ahmad Syauqi Soeratno dalam perbincangan Editorial Harian Kedaulatan Rakyat bersama Redaktur Pelaksana Primaswolo Sudjono dan disiarkan dalam channel YouTube Kedaulatan Rakyat TV, Rabu (13/10) mengatakan, pandemi Covid-19 secara signifikan sangat mempengaruhi perjalanan sepakbola di Indonesia. Pasalnya, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, jelas akan berpengaruh langsung pada kegiatan di lapangan.

"Secara signifikan jelas mempengaruhi perjalanan kegiatan sepakbola saat ini, khususnya kegiatan yang di lapangan. Karena penerapan protokol kesehatan, mengingat sifat virusnya yang mudah menyebar. Itu memunculkan kebijakan kehati-hatian untuk mencegahnya baik itu dari pemerintah, PSSI, kepolisian, untuk dipikirkan bersama," jelasnya.

Bagi Asprov PSSI DIY, pandemi Covid-19 secara langsung berdampak pada pembatalan beberapa kegiatan. Dua kegiatan yang awalnya disiapkan untuk dilaksanakan pada tahun 2020 ini, yakni Piala Asprov dan kompetisi U-16, terpaksa urung dilaksanakan dan kemungkinan baru bisa digulirkan pada tahun 2021 mendatang.

"Piala Asprov ini dulu pernah ada, tapi terhenti dan rencananya tahun 2020 ini akan digulirkan lagi. Tapi karena ada pandemi, ajang yang akan mempertemukan juara-juara hasil kompetisi lokal masing-masing Askab dan Askot se-DIY ini terpaksa tidak bisa kami jalankan. Termasuk U-16 nya. Padahal, ajang itu rencananya akan kami coba connecting-kan ke tim profesional yang ada di DIY," jelasnya.

Upaya menyambungkan kegiatan kompetisi amatir di DIY dengan klub profesional di DIY ini menurut syauqi sangat penting, karena klub-klub profesional yang ada di DIY memang tidak berkaitan secara langsung dengan Asprov PSSI DIY. Namun sebagai induk organisasi sepakbola di DIY, sudah selayaknyalah menjadi jembatan bagi kepentingan amatir dan profesional.

Awalnya, dengan rencana digulirkannya Piala Asprov dan Liga U-16, termasuk Liga 3 di DIY, diharapkan turnamen dan kompetisi amatir tersebut bisa menjadi ajang pencarian bibit pemain muda untuk dua tim profesional di DIY, PSS Sleman (Liga 1) dan PSIM Yogya (Liga 2). "Kami ingin menunjukkan potensi pesepakbola DIY agar bisa direkrut untuk tim profesional asal DIY juga. Kan rugi jika bakat potensial asal DIY justru diambil tim luar DIY dulu," jelasnya.

Terkait kembali ditundanya kompetisi Liga 1 dan Liga 2 hingga November mendatang, Syauqi menjelaskan, sejatinya Asprov tidak terkait secara langsung dengan kompetisi tersebut, karena keduanya adalah kegiatan profesional. Hanya saja, karena dalam lanjutan kompetisi Liga 1 musim ini ada 7 tim Liga 1 yang bermarkas di DIY, maka Asprov PSSI DIY tetap berkewajiban untuk ikut berperan.

Terlebih, saat ini pandemi Covid-19 juga masih belum mereda dan status DIY masih tanggap darurat, sesuai yang telah ditetapkan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Karena itulah, sebelum Liga 1 benar-benar digulirkan kembali dan 6 tim luar DIY bermarkas di DIY, Asprov PSSI DIY telah memberikan saran kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi.

“Sebelum tim-tim itu masuk DIY, kami sudah berikan saran ke PT LIB. Saran pertama, menjaga asas kepatuhan pada protokol kesehatan, bertemu dengan Pemda DIY selaku pengendali gugus tugas pengendalian Covid-19 dan Polda DIY. Dan sepertinya sudah dilaksanakan,” jelasnya.

Terkait kemungkinan anggota tim-tim Liga 1 dari luar kota yang bermarkas di DIY ini menyebarkan virus Korona ke masyarakat DIY, Syauqi menjelaskan, pemain dan perangkat tim Liga 1 ini berbeda dengan perangkat tim liga-liga amatir. Pasalnya, semua pemain dan anggota tim berada di sebuah hotel dan dikarantina sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan.

"Standarisasi protokol kesehatan Liga 1 ini berbeda, pemain itu dikonsentrasikan di sebuah hotel, jadi tidak bebas kemana-mana. Mereka nanti juga akan di swab sebelum pertandingan dan setelah. Pertandingannya juga tidak ada penonton, termasuk di luar stadion juga. Semua steril, dan mereka lebih terjaga kesehatan," ujarnya.

Dengan telah diterapkannya protokol kesehatan yang sangat ketat dalam pelaksanaan Liga 1 tersebut, Syauqi berharap kompetisi bisa kembali digulirkan. Karena, dengan digulirkannya kembali kompetisi, maka industri yang mengiringinya ikut bergerak untuk bisa menghidupi banyak orang yang ada di dalamnya, seperti pemain, pelatih, perangkat pertandingan. (Hit)

Credits

Bagikan