YIA Wujud Layanan Bandara Berkelas Dunia

user
danar 28 Agustus 2020, 18:50 WIB
untitled

KULONPROGO, KRJOGJA.com - Direktur Utama (Dirut) PT Angkasa Pura (AP) I, Faik Fahmi menegaskan, keberadaan Yogyakarta International Airport/ Bandara Internasional Yogyakarta (YIA/ BIY) di Kepanewon Temon diyakini akan memberikan kontribusi yang luar biasa dari berbagai sektor. Perekonomian masyarakat bisa meningkat dan pariwisata juga menjadi berkembang pesat.

“YIA merupakan bentuk kontribusi kami untuk menghadirkan layanan bandara berkelas dunia dengan mengutamakan aspek kenyamanan, keamanan dan keselamatan bagi seluruh pengguna jasa bandara sekaligus solusi atas permasalahan 'lack of capacity' yang terjadi di Bandara Adisutjipto. Dengan adanya penambahan daya tampung yang signifikan tentu akan meningkatkan jumlah penumpang termasuk wisatawan dari berbagai penjuru dunia,” katanya disela Peresmian YIA oleh Presiden RI Joko Widodo, Jumat (28/8/2020).

Ditegaskan, YIA dibangun dengan investasi dana Rp 11,3 triliun dengan rincian Rp 7,1 triliun pembangunan fisik dan Rp 4,2 triliun pembebasan lahan. Dengan luas terminal 219.000 meter persegi dan total luas area bandara mencapai 587 hektare, menjadikan YIA sebagai salah satu bandara terbesar di Indonesia dengan kapasitas saat ini bisa menampung 20 juta penumpang pertahun atau 11 kali lebih besar dari Adisutjipto yang hanya bisa menampung 1,6 juta penumpang pertahun.

"Pada kapasitas ultimate, YIA nanti dapat menampung hingga 24 juta orang pertahun," tegas Faik.

AP I berupaya meningkatkan kenyamanan penumpang sehingga YIA dilengkapi 96 konter 'check-in', 12 konter imigrasi di area keberangkatan, delapan konter imigrasi di area kedatangan, 74 eskalator, 41 'lift', 38 travelator, 60 toilet, 13 'nursery room', 45 mushola, dua 'kids zone', empat unit 'x-ray cabin' di 'screening check point' (SCP) 1, 16 unit 'x-ray cabin' dan 16 unit 'walk through metal detector' (WTMD) di terminal domestik, tujuh unit 'x-ray cabin' dan tujuh unit WTMD di terminal internasional 'screening sheck point' (SCP) 2, 'baggage handling system' dan 'hold baggage screening' (HBS) level 4. Tersedia pula gedung parkir yang dapat menampung hingga 4.900 kendaraan roda dua, 1.230 kendaraan roda empat, dan lahan parkir nongedung dapat menampung 61 bus dan 402 kendaraan roda empat.

Untuk fasilitas sisi udara, YIA memiliki kapasitas 17 'parking stand' yang dapat menampung lima pesawat 'wide body' dan 12 pesawat 'narrow body' atau 22 'parking stand' untuk pesawat 'narrow body' serta dilengkapi dengan 10 'aviobridge' dan terminal kargo dengan kapasitas 500 ton/hari.

"Runway bandara ini memiliki dimensi 3.250 m x 45 m dengan nilai PCN 93 F/C/X/T hingga dapat melayani pesawat terberat seperti Boeing B-777 dan pesawat terbesar seperti Airbus A380," ungkapnya.

YIA juga didukung transportasi publik atau multimoda memadai seperti 'shuttle bus Damri' dan SatelQu serta Kereta Api Bandara dari Stasiun Tugu dengan keberangkatan setiap jam. Aksesibilitas taksi reguler dan 'online pun juga secara mudah tersedia untuk penumpang. YIA dilengkapi juga sistem terpadu peringatan dini potensi gempa dan tsunami serta cuaca ekstrem sehingga menjadikannya sebagai bandara pertama yang memiliki mitigasi gempa dan tsunami.

“Desain dan struktur seluruh bangunan di area YIA siap dijadikan tempat evakuasi sementara ketika terjadi gempa dan tsunami,” tutur Faik Fahmi menambahkan sejak perencanaan pembangunanya memang telah diperhitungkan potensi risiko gempa dan tsunami sehingga didesain bisa memitigasi gempa hingga 8,8 'magnitudo' dan tinggi gelombang tsunami hingga 8-12,8 meter dari 'mean sea level'.

Sistem peringatan dini gempa dan tsunami di YIA dibangun berdasarkan perhitungan dan analisis matematis-fisik terhadap posisi dan kekuatan gempa bumi yang termonitor dari Kantor Pusat BMKG Kemayoran, Jakarta.

Dirut AirNav Indonesia mengungkapkan, kehadiran pesawat berbadan lebar akan berdampak positif terhadap sejumlah hal, antara lain potensi penumpang lebih banyak, potensi peningkatan wisata dan ibadah haji, peningkatan koneksi di jalur selatan Jawa, serta menambah potensi 'city pair' karena jarak tempuh lebih jauh.

"Pembangunan YIA disertai pengoperasian AirNav. Dengan beroperasinya AirNav maka alur penerbangan akan lebih lancar dibandingkan Bandara Adisucipto. Tower di YIA juga lebih tinggi, 39,5 meter sementara tower di Adisucipto hanya 25 meter sehingga pandangan ATC lebih lebar dan dapat memantau seluruh area pergerakan di bandara," tuturnya.(Rul/Ria)

Kredit

Bagikan