Tanpa Soegiarin, Kemerdekaan Indonesia Tak didengar Dunia

user
tomi 21 Agustus 2020, 21:12 WIB
untitled

TAK BANYAK yang tahu siapa dibalik penyiaran berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hingga akhirnya diketahui oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia. Ada dua tokoh penting di balik penyiaran berita proklamasi yang dibacakan Ir Soekarno didampingi Hatta yang mengatasnamakan rakyat Indonesia. Mereka adalah Adam Malik yang tercatat sebagai pemimpin Kantor berita Domei dan R Soegiarin yang dikenal sebagai markonis atau penyiar berita dengan alat morse.

R Soegiarno (91) adik R Soegiarin yang kini masih hidup dan tinggal di Semarang menceritakan kakaknya kelahiran Grobogan, 13 Juli 1918. Dia diasuh oleh eyangnya bernama Sukisman Projokusumo yang menjabat asisten Wedana.

"Ketika remaja kakak saya sekolah pelayaran Belanda dan menguasai ilmu komunikasi morse. Selanjutnya bekerja sebagai wartawan dan penyiar morse di Kantor berita Domei dibawah pimpinan Adam Malik. Menjelang Proklamasi, malam harinya mas Rin mendapat perintah dari Adam Malik untuk menyiarkan berita morse pagi harinya. Saat itu dia tidak diberi tahu berita apa yang akan disiarkan. Hanya pesan supaya pagi-pagi mesin siaran sudah harus hidup tanpa diketahui anggota Kempetai yang menjaga kantor Domei. Jadi malam itu sudah menyelinap di ruang mesin siaran," kenang Soegiarno yang lebih akrab dipanggil Eyang Giri.

Menurutnya, setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi Adam Malik langsung bergegas ke kantor Domei dan menyerahkan catatan naskah proklamasi sebagaimana yang dibacakan. Bergegas Soegiarin langsung mengabarkan berita proklamasi dengan mesin sandi morse. Dalam sekejap berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diterima di seluruh kantor berita dunia dan disebar luaskan.

Meski punya jasa besar terhadap penyiaran berita proklamasi, namun nasib R Soegiarin tak sebaik Adam Malik dan wartawan-wartawan lain yang ikut terlibat dalam penyiapan proklamasi kemerdekaan, seperti Adam Malik, BM Diah dan lainnya.

Soegiarin pernah mengurus surat status veteran di era kepemimpinan Presiden Soeharto, namun menurut Soegiarno hasilnya tak kunjung terealisasi. Mencoba untuk mendirikan pabrik kertas namun juga diganjal oleh keluarga Cendana. "Mas Rin adalah seorang nasionalis yang idealis. Meski demikian dia enggan terun dalam dunia politik. Hingga akhirnya lelah dan menyerah dengan tak ingin menunjukkan seluruh jasa dan pengabdiannya kepada negara. Mas Rin tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Sebelum meninggal di Jakarta 2 September 1987, dia minta dimakamkan di makam keluarga di Bergota Komplek Makam Kadipaten," ujar Soegiarno di rumahnya yang terletak di depan Makam Belanda Kalibanteng Semarang.

Soegiarin meninggalkan seorang istri Siti Ngaisah dan tak memiliki anak. Kisah Soegiarin seolah terkubur oleh hiruk pikuk berita-berita heroik lainnya. Siapapun boleh menutup kisah sejarah, namun faktanya tanpa ada jari-jari lentik Soegiarin yang mengoperasikan tombol morse melalui Kantor berita Domei, pasti saat itu dunia belum mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. (Cha)

Kredit

Bagikan