ODGJ Miliki Resiko Tinggi Tertular Covid-19

user
danar 13 Agustus 2020, 00:30 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Penegakan protokol kesehatan menjadi suatu keharusan oleh semua orang, termasuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Hal itu dikarenakan ODGJ memiliki risiko tertular Covid-19 yang cukup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan sudah banyak pasien suspek, (OTG atau PDP), yang memiliki gangguan jiwa yang sudah ditanggani oleh RSJ Grhasia.

"ODGJ terlantar atau menggelandang memiliki resiko cukup tinggi terpapar Covid-19. Memang dari sekitar 44 pasien yang kami tanggani sampai 10 Agustus kemarin, hanya beberapa orang yang menggelandang dan masuk sudah parah. Sedangkan lainnya terpapar Covid dengan keluarga atau orang merawat di rumah. Kendati demikian harus tetap diperhatikan, khususnya terkait protokol kesehatan," kata Direktur Utama RSJ Grhasia Akhmad Akhadi seusai mengadakan pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Gedhong Wilis Kompleks Kepatihan, Rabu (12/8/2020).

Menurut Akhmad Akhadi, sesuai dengan SK Gubernur No 61 yang diterima pada 17 Maret 2020, RSJ Grhasia ditunjuk sebagai salah satu RS rujukan Covid-19. Untuk mengubah ruangan perawatan jiwa menjadi perawatan infeksius untuk penanganan Covid-19 membutuhkan waktu sekitar 13 hari. Sampai akhirnya secara resmi RSJ Grhasia mulai merawat pasien suspek pada 1 April 2020.

"Kalau jumlah pasien yang sudah kami tanggani sejak pertama sampai 10 Agustus ada 44 orang. Dari jumlah tersebut sudah banyak yang sembuh dan pulang ke rumah. Sedangkan 4 pasien meninggal, dengan rincian 2 pasien sudah menjalani swab dan 2 pasien lainnya belum swab. Keempat pasien yang meninggal seluruhnya memiliki penyakit penyerta atau komorbid," kata Akhmad.

Lebih lanjut Direktur RSJ Grhasia menambahkan, dalam pertemua dengan Gubernur DIY, pihaknya sempat meminta izin untuk memanfaatkan Sultan Ground (SG) yang berada di selatan RSJ Grhasia di Pakem Sleman. Adapun SG yang akan dimanfaatkan untuk perluasan tersebut sekitar 4 hektare. Prinsipnya Sultan HB X menyambut baik dan tidak berkeberatan pihaknya memanfaatkan SG yang muaranya untuk masyarakat DIY. Rencananya bangunan baru yang saat ini masih dalam tahap perencanaan akan diperuntukkan bagi pelayanan non medis.

"Saat ini yang digunakan untuk RS jiwa dari barat ke timur, sampai jalan yang menuju ke utara ke Lapas Narkoba itu dimanfaatkan dibangun untuk pelayanan kesehatan non jiwa. Pelayanan penyakit dalam, pelayanan bedah, dan pelayanan lain. Prinsipnya 'Ngarsa Dalem tidak keberatan dan mendukung penuh rencana kami,"terangnya.

Menurutnya, Sultan sempat berpesan (meminta) pihaknya agar pengembangan dilakukan secara optimal dengan kapasitas 300 tempat tidur. Mengingat saat ini RSJ Grhasia sudah memberikan pelayanan nonjiwa sesuai Permenkes 3/2020 membuat rambu maksimal 40 persen dari tempat tidur yang ada yang bisa dimanfaatkan untuk pelayanan nonjiwa.

"Sekarang kapasitas tempat tidur Grhasia itu 243 tempat tidur. Kalau 40 persennya kira-kira 96 tempat tidur bisa diperuntukkan untuk pelayanan gangguan jiwa. Namun untuk mengembangkan itu membutuhkan lahan, oleh karena itu kami meminta izin dari 'Ngarsa Dalem'," tambahnya. (Ria)

Kredit

Bagikan