Pemkot Siapkan Paket Wisata Terintegrasi

user
tomi 05 Agustus 2020, 08:53 WIB
untitled

YOGYA (KR) - Pemkot Yogya menyiapkan paket wisata yang terintegrasi dan berbasis kampung. Dengan mengusung konsep Gandeng Gendong, potensi kampung yang sudah dikembangkan akan dimasukkan dalam paket wisata alternatif.

Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi menyebut, salah satu yang akan digulirkan pada tahun ini ialah di wilayah Gedongkiwo Mantrijeron. "Sebetulnya banyak kampung yang sebenarnya sudah siap. Akan tetapi dari sisi anggaran ada rasionalisasi sehingga baru di Gedongkiwo dulu yang berbasis kultural,” katanya di sela panen perdana sekaligus peluncuran sistem pertanian perkotaan terintegrasi berwawasan lingkungan di Kampung Markisa Blunyahrejo Karangwaru, Selasa (4/8).

Melalui paket wisata terintegrasi tersebut, kampung yang memiliki karakteristik dan mandiri akan ditawarkan ke wisatawan. Pihak perhotelan sudah siap untuk memberikan promo kepada para tamunya. Kemudian kunjungan ke kampung-kampung menggunakan sepeda yang disiapkan oleh pihak ketiga. Sehingga entitas kampung sebagai pihak yang digandeng sedangkan hotel dan pihak ketiga sebagai korporasi merupakan pihak yang menggendong.

Heroe mengaku, keberadaan Kampung Markisa Blunyahrejo sebenarnya juga siap untuk dimasukkan dalam paket wisata dengan karakteristik pertanian perkotaan. Akan tetapi dukungan pemerintah secara lebih serius baru bisa dilakukan tahun berikutnya. “Sekarang sudah banyak kampung yang memiliki karakteristiknya. Seperti basis budaya, pertanian, kerajinan maupun kuliner. Itu nanti akan diintegrasikan dengan pariwisata. Sudah ada masterplannya,” urainya.

Sementara Ketua Pengurus Kampung Blunyahrejo Pratito, menuturkan Kampung Markisa di wilayahnya merupakan slogan, yakni kependekan dari Mari Kita Bersatu, Bersama dan Bisa. Meski demikian pihaknya juga berencana untuk membuat wilayahnya sebagai sentra buah markisa dan aneka olahannya. Selain itu, di Kampung Markisa para anggota kelompok tani juga memanfaatkan lahan kosong untuk bercocok tanam. Lahan seluas ribuan meter persegi itu merupakan milik warga yang statusnya pinjam pakai. Namun terdapat 2.634 meter persegi yang diperbolehkan untuk dibeli oleh pemerintah untuk kepentingan publik.

"Kami secara serius memulai aksi tanam sejak Februari 2020. Ini merupakan panen perdana secara massal yang hasilnya dijual kepada warga sekitar. Tujuan kami lebih pada menjaga ketahanan pangan,” katanya. (Dhi)

Kredit

Bagikan