Beragam Permasalahan Pembelajaran Jarak Jauh Bahasa Jawa

user
tomi 31 Juli 2020, 16:10 WIB
untitled

SEMARANG,KRJOGJA.com-Permasalahan terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ) semakin beragam, tidak terkecuali untuk pelajaran Bahasa Jawa. Guru harus mengidentifikasi berbagai permasalahan tersebut sebagai bekal meningkatkan kualitas pembelajaran di era pandemi Covid-19 seperti sekarang.

Demikian salah satu bahasan yang mengemuka dalam seminar online (webinar) melalui zoom dan Youtube "Pembelajaran Bahasa Jawa di Era Pandemi: Tantangan dan peluang" yang diselenggarakan Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (30/7/2020). Webinar kerja sama Unnes dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMP dan SMA Kabupaten Kudus ini diikuti 200-an guru.

Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa Unnes Mujimin mengatakan terkait akses pembelajaran, penting bagi guru untuk mengidentifikasi permasalahan yang dialami peserta didik. Ketika pandemi, permasalahan itu terutama terkait dengan akses supaya materi yang disampaikan bisa diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa. Oleh sebab itu, antar-siswa bisa memiliki masalah berbeda.

“Siswa yang tinggal di perkotaan bisa jadi memiliki permasalahan yang berbeda dengan mereka yang tinggal di perdesaan. Hal itu terkait dengan kepemilikan sarana seperti telepon genggam atau laptop juga konektivitas ke jaringan internet. Kondisi ekonomi dan geografis yang beragam menjadikan tidak semua siswa bisa mengikuti pembelajaran melalui internet. Di sejumlah daerah, guru bahkan memanfaatkan radio dan pesan singkat (SMS) untuk memberikan materi dan soal” ujar Mujimin.

Hadir secara virtual sebagai pembicara, Mundakir (Ketua MGMP Bahasa Jawa SMA Kabupaten Kudus), Eko Purnomo (Ketua MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Kudus), dan Andicha Octaffianto (staf Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah). Diskusi dimoderatori oleh Ucik Fuadhiyah, Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes.

Menurut Andicha Octaffianto, tantangan bagi guru di masa pandemi semakin bertambah kompleks. Di antaranya terkait dengan ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, dan keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan.

Selain itu, tantangan yang juga muncul adalah relasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral. Kunci dari pembelajaran daring adalah konten yang dibuat oleh guru.

“Guru sebaiknya membuat pembelajaran dengan menyenangkan dan tidak mudah membuat stres. Antar-guru pun bisa saling meminjam media pembelajaran,” ujarnya.

Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, Dr Prembayun Miji Lestari menyatakan, pihaknya terus mengupayakan peningkatan kompetensi bagi guru lewat berbagai kegiatan di antaranya webinar. Rencananya akan digelar pelatihan lanjutan dan pihaknya membuka jalinan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk bagi MGMP untuk bekerja sama ” ujar Prembayun.(sgi)

Credits

Bagikan