Lahan Terancam Puso Pemprop DIY Optimis Ketahanan Pangan Terjaga, Cek Empat Faktanya Disini

user
tomi 28 Juli 2020, 10:06 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Sekitar 2.000 hektare (Ha) dari total lahan pertanian sawah di DIY 65.000 Ha terdampak kekeringan. Dari 2.000 Ha tersebut merupakan tadah hujan, dengan 1.000 Ha di antaranya terancam puso. Namun, ada fakta lain yang menunjukkan kondisi kekeringan tidak perlu dirasaukan. Berikut Faktanya :

1. Kekeringan Bisa Diatasi dengan Pompanisasi

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Ir Arofa Noor Indriani MSi mengatakan lahan pertanian potensi tadah hujan yang terdampak tersebut sebagian besar ada di Gunungkidul lalu sebagian kecil ada di Kulonprogo.

"Dari total luasan lahan pertanian di DIY sebesar 65.000 Ha, ada 2.000 Ha lahan pertanian tadah hujan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau. Dari 2.000 Ha lahan pertanian tadah hujan tersebut, sekitar 50 persennya bisa diatasi dengan pompanisasi sehingga lahan pertanian yang terdampak kekeringan tinggal 1.000 Ha saat ini,” papar Arofa kepada KR di Yogyakarta, Senin (27/7).

2. Masih Surplus 200.000 Ton Beras

Arofa menyampaikan produksi padi di DIY mencapai 5 hingga 6 ton setara

beras per Ha sehingga apabila berkurang 1.000 Ha maka produksinya berkurang sekitar 5.000 hingga 6.000 ton.

Sedangkan total produksi padi di DIY mencapai kisaran 550.000 hingga 600.000 ton setara beras setiap tahunnya dengan kebutuhan mencapai 35.000 hingga 37.000 ton beras perbulan atau sekitar 450.000 ton setahun.Sehingga masih surplus sekitar 150.000 sampai 200.000 ton beras di DIY yang setara kebutuhan masyarakat untuk 2 hingga 3 bulan ke depan.

"Kami pastikan produksi padi di DIY masih tetap aman di tengah ancaman musim kemarau. Meskipun ada pengurangan lahan akibat kekeringan, namun dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap hasil produksi padi sehingga ketahanan pangan khususnya beras di DIY masih tetap terjaga,” ungkapnya.

3. Anggaran Dropping Air Cukup

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Drs K Baskara Aji di kantornya, memastikan bahwa anggaran untuk itu masih aman dan mencukupi untuk kebutuhan dropping air bersih. Walaupun pihaknya tidak memungkiri jika akibat adanya pandemi Covid-19 ada banyak pos anggaran yang terpaksa harus dipangkas.

Kemungkinan yang jumlahnya akan mengalami pengurangan adalah bantuan air bersih dari masyarakat maupun pihak swasta. Karena saat pandemi Covid-19 banyak di antara mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.

Sementara itu di Gunungkidul, jumlah keluarga terdampak kekeringan meluas. Jika pada pertengahan bulan ini jumlah yang kesulitan air baru 9.304 KK terdiri 33.864 jiwa, menjelang akhir bulan ini jumlah yang kesulitan air semakin banyak. Ada 17.753 KK terdiri dari 63.233 jiwa sudah meminta bantuan air. Jumlah tersebut yang datanya masuk ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul.

4. Ada 10 Kapenawon Atasi Kekeringan Sendiri

Sementara 10 kapanewon yang mendapat otoritas menangani kekeringan sendiri sudah mengirim bantuan air sejak awal bulan Juli ini. Seperti di Kecamatan Tepus sudah mengirimkan bantuan air ke masyarakat sebanyak 269 tangki ke lima kalurahan, masing-masing Tepus, Purwodadi, Giripanggung Sidoarjo dan Sumberwungu.

"Ada 5 kalurahan, 26 pedukuhan, 96 Rukun Tangga (RT) 3.226 KK terdiri dari 12.3441 jiwa sudah kesulitan air,” kata Penewu Kapanewon Tepus Alsito SSos MSi, Senin (27/7).

Kepanewon Tepus termasuk mempunyai otoritas untuk mengelola anggaran dropping air. Tahun ini jumlah anggaran sebesar Rp 106.400.000. Dropping ini diprioritaskan bagi warga masyarakat yang tidak mampu, sementara bagi yang mampu dapat mencukupi kebutuhan air dengan membeli

kepada pedagang swasta. (Ira/Ewi/Ria)

Credits

Bagikan