'Food Truck In Town' Wirausaha Kreatif di Masa Pandemi

user
tomi 26 Juli 2020, 11:08 WIB
untitled

SEMARANG,KRJOGJA.com - Pandemi Corona (Covid-19) berdampak serius pada banyak sektor, tak terkecuali sektor pangan, terlebih mereka yang berjualan produk pangan olahan secara offline, baik pedagang retail maupun pedagang makanan jalanan (street foods). Dengan “new normal”, semua sektor diminta bergerak, termasuk pelaku usaha makanan jalanan. Angin segar ini tentu harus dioptimalkan sebaik mungkin.

Bagi pengusaha toko retail, penerapan protokol kesehatan jauh lebih mudah dibanding pengusaha makanan jalanan. Pelaku usaha bidang pangan olahan terutama makanan jalanan perlu inovasi yang bisa diterapkan di masa “new normal”.

“Selama satu dekade terakhir, sektor pangan menghadapi peningkatan inovasi sangat pesat terutama bidang pangan berkelanjutan. Kondisi ini berkaitan erat dengan gaya hidup dan kebiasaan makan masyarakat modern, yang cenderung memilih mengkonsumsi makanan instan. Hal ini berdampak positif terhadap makanan jalanan atau street foods. Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyebut makanan jalanan merupakan makanan dan minuman siap saji yang disiapkan dan atau dijual oleh pedagang asongan, terutama di jalan-jalan dan di tempat sejenisnya” ujar Diode Yonata MTP, akademisi Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Semarang (PSTP Unimus) kepada pers Sabtu (25/7/2020).

Menurut Diode Yonata, makanan jalanan tumbuh subur di negara berkembang, termasuk Indonesia. Keberadaan makanan jalanan memiliki nilai intrinsik tersendiri. Selain bersahabat dengan kantong, makanan jalanan dikenal dengan citarasa khas serta memiliki nilai budaya unik, sehingga lebih menarik masyarakat sekitar hingga wisatawan untuk mengkonsumsi. Namun banyak kasus ditemui makanan jalanan di Indonesia cenderung tinggi karbohidrat dan lemak, namun rendah serat, protein, vitamin serta komponen gizi lainnya.

Disamping itu, penerapan hygiene dan sanitasi oleh pedagang maupun pembeli masih rendah. Beragam kontaminasi dan faktor resiko lainnya mengancam kesehatan konsumen dan pedagang serta lingkungan sekitar. Hal ini diperburuk adanya pandemi Covid-19. Dilansir dari situs resmi WHO, penyebaran virus covid-19 memang tidak ditularkan secara langsung oleh makanan, tetapi bisa ditularkan melalui kemasan makanan maupun media untuk mengkonsumsi seperti sendok serta gelas. Update terakhir dari WHO virus Covid-19 ini bisa ditularkan lewat udara.

Berbagai alternatif telah diusulkan untuk memperbaiki permasalahan ini, terutama dalam menyiapkan dan menjual makanan jalanan. Baru-baru ini, inovasi di bidang teknologi pangan yang semakin digandrungi pedagang adalah berjualan menggunakan truk yang dikenal dengan "food truck". Trend berjualan dengan food truck lebih efektif dan efisien dibandingkan teknik konvensional, tidak terkecuali di masa pandemi ini. Usaha food truck banyak diminati karena keunggulan bisa menjemput bola dengan mobilitas tinggi yang dapat memperluas pangsa pasar. Di samping itu, menggunakan food truck berbiaya relatif lebih rendah, waktu berjualan lebih fleksibel hingga pemasaran lebih mudah menggunakan berbagai macam platform digital. Hal ini menjadikan bisnis food truck menjadi alternatif baik selama masa pandemi maupun setelahnya nanti.

“Peluang ini tidak dilewatkan oleh banyak orang, termasuk Ilhemi, alumnus Teknologi Pangan Unimus 2019. Seiring masa “new normal” trend masyarakat untuk mengkonsumsi makanan jajanan kembali meningkat. Kondisi ini memancing ide Ilhemi memproduksi makanan siap saji namun tetap memperhatikan aspek gizi, aspek sensoris dan terpenting aspek kesehatan. Dengan ilmu yang diperolehnya selama kuliah, dirinya berinovasi memproduksi rice bowl yang sehat, nikmat dan bergizi. Proses pemasarannya menggunakan food truck dengan menjemput pelanggan sampai ke pinggiran Kota” ujar Diode Yonata.

Menurut Diode, metode berjualan dengan truk ini dipercaya Ilhemi lebih menjanjikan, dibanding membuka toko yang butuh biaya lebih besar. Pemesanan dan pembayaran juga bisa dilakukan online, sehingga meminimalisir penularan Covid-19. Idenya merupakan pengembangan penelitian skripsinya mengenai analisis kelayakan usaha pada food truck dengan produk inovasi sushi.

Kaprodi PSTP Unimus lulusan Doktor Ilmu Pngan UGM Dr Nurhidajah MSi juga menerangkan bisnis makanan memang terpuruk selama masa pandemi. Terlebih bagi pelaku usaha offline yang menggantungkan pendapatannya dengan bertatap muka langsung dengan konsumen. Adanya ide food truck ini optimis bisnis makanan olahan kembali berjaya. Bisnis lewat food truck memang didesain untuk makanan siap saji sehingga mampu mencegah kerumunan banyak orang, konsumen datang dan memesan makanan kemudian pulang dan dikonsumsi di rumah. Konsumen juga bisa memesan produk yang dibeli via platform sehingga mampu meminimalisir kontak dengan penjual maupun konsumen lain apabila datang secara bersamaan. Penarapan protokol kesehatan juga lebih mudah dikontrol karena konsumen tidak berdesak-desakan dan tidak berkerumun.

Menurut Muhammad Yusuf PhD (dosen Pengembangan Produk Teknologi Pangan Unimus), beberapa aspek harus diperhatikan pengusaha pemula dalam memulai berwirusaha food truck. Paling penting adalah kekhasan dan inovasi baik pada produk, desain kemasan maupun truck yang digunakan. Banyak pengusaha food truck gulung tikar setelah 2-3 bulan karena tidak memproduksi produk pangan dengan ciri khas tersendiri, hanya ikut-ikutan. Truk yang digunakan juga mengikuti trend yang sudah ada, padahal kompetitor bisnis ini sangat menjamur. Muhammad Yusuf sering menekankan pada mahasiswa maupun alumni yang memulai merintis usaha, boleh saja adopsi ide teknologi dari luar jangan hanya direplikasi. Inovasikan produk yang diproduksi dengan mensubstitusi bahkan kalau bisa menganti bahan utamanya dengan pangan lokal dengan sentuhan modern. Angkat budaya lokal pada produk tersebut, dikemas secara inovatif dan menggunakan sosial media dalam pemasarannya.

Berjualan dengan food truck memang menjanjikan, terutama bagi pengusaha pemula. Semakin banyak kompetitor dalam usaha yang dijalani, menandakan market produk semakin besar. Usaha yang sehat ditandai dengan persaingan inovasi dan ide yang kuat. Tidak boleh takut dengan persaingan, terpenting bisa menciptakan ciri khas produk yang dijual, konsep ide dengan baik, tentukan market, jalani dengan sungguh-sunguh, terapkan protokol kesehatan sebaik mungkin, berdoa dan jangan berhenti untuk belajar. (Sgi)

Kredit

Bagikan