Gibran - Teguh Lawan Kotak Kosong, Demokrasi Solo Dikuatirkan 'Ambyar'

user
tomi 20 Juli 2020, 20:05 WIB
untitled

SOLO, KRJOGJA com -  Situasi politik kota Solo tambah memanas, menyusul Purnomo yang sebelumnya digadang-gadang DPC PDI Perjuangan Solo menjadi bakal calon Walikota Solo dan mendapat rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan, ternyata posisinya diambil alih oleh Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi.

Langkah Gibran dikhawatirkan oleh Relawan Garuda (Gerakan Rakyat Surakarta) tidak akan mulus, jika tidak ada calon penantang, calon yang diusung PDIP dikhawatirkan bakal musuh kotak kosong.

Menurut Deklarator Relawan Garuda BRM Kusumo Putro, kepada pers, Senin (20/7/2020) langkah pasangan Gibran Rakabuming Raka - Teguh Prakosa dalam Pilkada 2020 Kota Solo dikhawatirkan tidak akan berjalan mulus. "Hal ini menyusul belum adanya nama pasangan calon (Paslon) baru yang diusung dari Partai politik (Parpol) ,." ujarnya.

Di sisi lain, tambah Kusumo, verifikasi calon independen Bagyo Wahyono - FX Supardjo (Bajo) juga mengalami kendala.

Menurut Deklarator Relawan Garuda BRM Kusumo Putro, kecil kemungkinan Bajo lolos dalam verifikasi calon independen oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Solo.

"Verifikasi oleh KPUD batas waktunya sampai 27 Juli 2020, sementara syarat dukungan minimal (calon independen) 35.870 suara." papar Kusumo .

"Hasil verifikasi Bajo dari sekitar 28 ribu, yang tidak masuk verifikasi sebanyak 7.441 ribu," terangnya.

Dengan banyaknya data yang tidak masuk verifikasi, sesuai aturan dari KPU, Bajo harus bisa menggantikan nama-nama yang tidak masuk verifikasi dua kali lipat.

"Namun waktunya tinggal tujuh hari lagi, sangat kecil sekali kemungkinan Bajo lolos,"ujarnya.

"Nah, dikhawatirkan jika tidak ada calon penantang, calon yang diusung PDIP akan musuh kotak kosong. Demokrasi di Pilkada Solo bakal ambyar," sergahnya.

BRM Kusumo Putro yang mengaku simpatisan PDIP tapi tidak punya kartu tanda anggota (KTA) partai berlambang banteng moncong putih itu

mènyayangkan , Parpol di Solo tidak punya keberanian mengusung calon."Jika semuanya merapat ke PDIP, maka akan menjadi musibah politik. Demokrasi yang selama ini diartikan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat tidak tercapai. Malah muncul fenomena demokrasi ambyar." terangnya.

Kusumo berharap jalannya Pilkada Solo 2020 tidak hanya memunculkan satu pasang calon saja."Sehingga sesuai mekanisme demokrasi, rakyat memiliki pilihan figur pasangan calon. Bukan sekadar lawan kotak kosong," pungkasnya. ( Hwa)

Credits

Bagikan