Gerakkan Ekonomi, DIY Didorong Lebih Konsumtif

user
agus 18 Juli 2020, 14:23 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Deputi BI Perwakilan Yogyakarta, Miyono menyebut DIY mengalami resesi di dua triwulan 2020 karena perekonomian tak berjalan akibat pandemi Covid-19 yang diprediksi akan semakin dalam di akhir tahun. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan yakni dengan mendorong kembalinya konsumsi yang menjadi penggerak perekonomian DIY.

Dalam dialog wartawan, di Tarumartani Coffee Sabtu (18/7/2020) Miyono mengatakan ada potensi resesi lebih dalam di triwulan ketiga karena mandegnya perekonomian. Beberapa sektor memegang dominasi seperti pariwisata dan pendidikan yang selama ini diketahui sebagai ujung tombak perekonomian DIY.

“Karena itu harus ada langkah cepat agar segera pulih ekonominya dengan harapan di triwulan tiga meski terkontraksi sudah kecil. Ya, satu jalan kita harus dorong konsumsi atau pengeluaran pemerintah agar sektor swasta bisa bergerak. DIY sudah mulai berusaha menggerakkan konsumsi itu,” ungkapnya.

Saat ini yang terjadi, uang lebih banyak mengendap di bank karena proyek yang sudah dianggarkan tak dikerjakan. Di DIY ada alokasi APBD dan Danais yang bisa digunakan untuk pemulihan ekonomi.

“Pemerintah harus segera membuka sektor tertentu yang menjadi motor penggerak ekonomi Jogja, misalnya sektoral ya pariwisata dan pendidikan. Kami berusaha gerakkan sektor pariwisata di berbagai tempat dengan penyesuaian protokol kesehatan. Menggerakkan dunia pendidikan, mahasiswa 160 ribu orang di Jogja akan menggerakkan konsumsi masyarakat. Ekonomi masyarakat akan bergerak juga,” tandasnya.

Gerakkan Ekonomi, DIY Didorong Lebih Konsumtif

Suasana dialog bersama media (Harminanto)

Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, RB Dwi Wahyu menyatakan saat-saat ini masyarakat tak keliru apabila lebih banyak berhitung mengeluarkan uang. Dwi justru menyayangkan sikap Pemda DIY yang justru terkesan lebih ketakutan mengeluarkan uang untuk belanja yang bisa mendongkrak ekonomi.

“Saya melihat eksekutif pun saving anggaran sepertinya jangan sampai gaji kacau. Apakah separah itu sampai kita tak punya uang beneran? Senjata Perppu (nomor 1 2020) itu belum digunakan optimal oleh eksekutif. Personal eksekutif, mampu tidak dia untuk gunakan itu karena pergerakan ekonomi tak jalan. Ayo duitnya digerakkan. Ada konstruksi yang belum jalan padahal itu nomor dua PDRB DIY. Eksekutif hanya kedepankan serapan bukan sasaran,” ungkap Dwi.

Sementara Pemimpin Bidang Perkreditan Bank BPD DIY, Nur Iswantoro menyebutkan pihaknya siap mendukung kebijakan Pemda DIY untuk menggerakkan ekonomi di masa pandemi ini. “Kalau melihat keuangan, memang cukup besar berada di kami dan upaya sudah dilakukan seperti restrukturisasi kredit bagi UKM terdampak. Sampai saat ini sudah ada 6000 lebih memanfaatkan restrukturisasi ini dan sebagian besar terkait industri pariwisata serta perdagangan,” ungkapnya. (Fxh)

Credits

Bagikan