Masa Pandemi SSJY Tampilkan Satra Virtual

user
danar 15 Juli 2020, 14:30 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - MASA Pandemi Covid 19 adalah shocking time for everybody all over the world atau masa yang membuat masyarakat dunia terhenyak kaget, tidak siap. Efeknya pun di segala lini kehidupan tanpa terkecuali. Dunia sastra pun merasakan imbasnya. Demikian disampaikan Ketua Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) Yohanes Adhi Satiyoko, di kantornya Balai Bahasa DIY, Rabu (15/7/2020).

"Sebagai bagian dari masyarakat kreatif dunia, SSJY selalu mempunyai program dan pola pembinaan berkesinambungan yang interaktif," kata Adhi Satiyoko. Namun masa pandemi menyebabkan aktivitas interaksi fisik terhenti. Walaupun begitu, SSJY tetap berkoordinasi dengan para pengurus dan anggota untuk pembinaan dan pengembangan sastra Jawa bagi semua orang, segala usia tanpa terkecuali.

Hal ini menurut Adhi Satiyoko akhirnya diterjemahkan oleh talenta muda SSJY, Hayu Avang Darmawan yang mengreasi program pembinaan dan pengembangan sastra Jawa melalui media daring-visual. Maka dibuatlah video-video tutorial yang mengangkat profil sastrawan Jawa di Yogyakarta, karya-karya mereka, akivitas, proses kreatif, serta seserepan (pengetahuan) tentang sastra. Sementara ini talent-talent yang diangkat adalah para anggota SSJY, selanjutnya akan berkembang ke sastrawan dan masyarakat di Yogyakarta (DIY). Ada yang tampil di You Tube membaca geguritan, cerkak dan macapat.

Materi unggahan di YouTube terus dibahas dan akan dikembangkan oleh tim. Inilah salah satu strategi sastra Jawa untuk berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat Jawa, Indonesia, dan meluasnya dunia, karena sastra Jawa adalah sastra dunia.

Di masa tidak Pandemi, SSJY yang merupakan sanggar sastra binaan Balai Bahasa DIY itu, rutin menyelenggarakan pertemuan setiap dua bulan sekali. Dalam pertemuan dua bulanan itu selain diskusi dan pelatihan juga pementasan baca geguritan, baca cerkak, 'dramatic reading' dan teater dalam bahasa Jawa.

Anggota SSJY dari berbagai kalangan dan ragam usia. Namun semua menjadi praktisi sastra dan budaya Jawa. Siswa sekolah dari SD sampai mahasiswa. Eyang kakung dan eyang putri juga ada dan tetap semangat untuk berkreatifitas.(War)

Credits

Bagikan